head-pic

PROLOG

[Jadynn menarik tangan Lumina dengan cepat namun lembut, membawanya masuk ke dalam kamar kecil yang hanya mereka berdua yang tahu. Ruangan itu terasa seperti dunia mereka sendiri, jauh dari keramaian. Dengan gerakan penuh hasrat, Jadynn merengkuh pinggang Lumina, mendekatkannya ke tubuhnya. b***r mereka bertemu dalam sebuah c****n yang menggambarkan rindu yang tak terbendung. Seperti kehausan yang akhirnya terpuaskan, Jadynn memagut b***r Lumina dengan penuh intensitas, menciptakan momen yang hanya milik mereka berdua. “Oooh, Baby … kau sukses membuatku gila!” desah Jadynn penuh gairah.] * * * * PROLOG Lumina adalah seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota besar. Sejak kecil, Lumina dikenal sebagai anak yang cerdas dan tekun. Dia selalu menjadi yang terbaik di kelasnya, dan prestasinya tidak pernah mengecewakan. Namun, kehidupan Lumina tidaklah mudah. Dia tumbuh di panti asuhan sejak kecil. Dan semua biaya sekolahnya dia dapat dari beasiswa karena kepintarannya. Meskipun hidup dalam keterbatasan, Lumina tidak pernah menyerah. Dia tahu bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasibnya. Dengan beasiswa yang dia dapatkan, Lumina bisa melanjutkan pendidikannya sampai ke universitas. Namun, biaya hidup di kota besar tidaklah murah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Lumina memutuskan untuk mengajar les privat. Dia mendapatkan tawaran itu dari salah satu teman kuliahnya yang berasal dari keluarga kaya. Dari yang awalnya mengajar satu murid, kini Lumina telah mengajar empat murid yang berasal dari keluarga kaya yang bayarannya cukup besar karena dihitung perjam. Lumina adalah guru yang sabar dan telaten. Dia tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga memberikan motivasi kepada murid-muridnya untuk tidak mudah menyerah. Banyak orang tua yang memuji kemampuan Lumina dalam mengajar, dan reputasinya sebagai guru les privat pun semakin dikenal. Suatu sore, setelah selesai menyelesaikan kuliahnya, Lumina menerima telepon dari temannya, Agnes. Agnes adalah teman sekampus Lumina yang juga berasal dari keluarga kaya. Mereka bertemu di kelas mata kuliah yang sama, dan meskipun latar belakang mereka berbeda, mereka cukup akrab. "Lumi, aku punya kabar baik untukmu," kata Agnes dengan suara bersemangat. "Apakah murid baru?" tanya Lumina penasaran. Agnes tertawa pelan. “Teman ibuku sedang mencari guru les privat untuk anaknta. Dia masih kecil, umurnya baru 5 tahun. Mereka mencari seseorang yang bisa mengajarnya membaca, menulis, dan matematika dasar. Gajinya sangat besar tapi kau akan mengambil jam malam. Apa kau tertarik?" Lumina terdiam sejenak. Mengajar anak kecil bukanlah hal yang biasa dia lakukan. Selama ini, murid-muridnya kebanyakan adalah anak-anak yang lebih besar. Namun, tawaran ini bisa menjadi kesempatan bagus untuk mendapatkan penghasilan tambahan. "Oke, aku mau.” "Ibunya ingin kau mengajar lima kali seminggu. Dan akan ada bonus jika kau menambah jam belajar.” Lumina mengernyit. “Menambah jam belajar? Anak sekecil itu tak perlu terlalu lama belajar.” “Tidak, bukan seperti itu. Maksudnya jika kau bisa menjaganya satu jam lebih lama, kau akan mendapat tambahan banyak. Kau mau?” tanya Agnes di seberang telepon. “Hmm … oke. Tak masalah karena malam hari aku lebih santai dan tak ada kuliah. Aku hanya fokus pada ujian saja untuk memenuhi kelulusanku.” “Pilihan yang bagus,” sahut Agnes. "Ya, aku tertarik dengan tambahannya. Kapan aku bisa mulai?" tanya Lumina. "Besok aku akan menjemputmu dan mengantarmu ke rumah mereka. Mereka tinggal di kawasan elit di pusat kota dan mereka tinggal di mansion besar. Jadi, bersiaplah untuk melihat dunia yang berbeda," kata Agnes sambil tertawa. * * Keesokan harinya, Agnes menjemput Lumina di asrama universitas. Mereka naik mobil mewah milik Agnes dan meluncur ke pusat kota. Lumina merasa sedikit gugup. Dia sering masuk ke dalam lingkungan orang-orang kata, tapi kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya karena yang tinggal di sana adalah para konglomerat dan orang-orang ternama. Rumah-rumah mewah yang sangat besar dengan pagar tinggi dan taman yang luas membuatnya merasa seperti berada di dunia yang berbeda. Setelah melewati gerbang keamanan yang ketat, mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah megah. Rumah itu seperti istana, dengan taman yang dipenuhi bunga-bunga indah dan kolam renang yang luas. Lumina menarik napas dalam-dalam sebelum mengikuti Agnes masuk ke dalam rumah. Di dalam, mereka disambut oleh seorang wanita cantik berusia sekitar 30 tahunan. Dia adalah ibu Nigel, anak yang akan diajari oleh Lumina. "Selamat siang, Nyonya. Saya Lumina," kata Lumina dengan sopan. "Selamat siang, Lumina. Aku Annie. Terima kasih sudah bersedia mengajar Nigel. Dia anak yang pendiam, tapi sangat cerdas. Aku harap kau bisa membantunya berkembang. Panggil saja aku Annie dan tak perlu terlalu formal padaku," kata Annie dengan senyum ramah. Lumina mengangguk. "Aku akan berusaha yang terbaik." Annie kemudian mengajak Lumina ke ruang keluarga, di mana Nigel sedang duduk di sofa kecil sambil memegang mainan mobil-mobilan. Nigel adalah anak laki-laki berusia 5 tahun dengan rambut pirag lurus dan mata besar yang penuh rasa ingin tahu. Namun, dia tidak banyak bicara. Ketika Lumina mendekat, Nigel hanya meliriknya sebentar sebelum kembali fokus pada mainannya. "Nigel, ini Miss Lumina. Dia akan mengajarimu membaca dan menulis, serta matematika, oke?" kata Annie dengan suara lembut. Nigel tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil. Lumina tersenyum. Dia duduk di lantai di dekat Nigel dan mencoba untuk memulai percakapan. "Hai, Nigel. Aku Lumina. Kau suka mobil-mobilan?" Nigel mengangguk lagi, kali ini dengan sedikit senyuman. "Wah, keren. Mobil apa yang kau pegang itu?" tanya Lumina. "Ini mobil balap," jawab Nigel dengan suara kecil. "Wah … Aku suka mobil balap juga," kata Lumina sambil tersenyum. Dia berusaha agar Nigel menyukainya dan itu tak sulit baginya karena dulu dia sering menjaga anak-anak di panti ketika masih tinggal di sana. Pertemuan pertama mereka berjalan lancar. Lumina berhasil membuat Nigel merasa nyaman, dan mereka mulai belajar bersama. Nigel memang pendiam, tapi dia cepat memahami pelajaran yang diajarkan oleh Lumina. Dalam waktu singkat, Lumina sudah bisa melihat potensi besar dalam diri Nigel. Setelah pertemuan pertama selesai, annie memuji cara mengajar Lumina. "Kau sangat sabar dan baik, Lumina. Nigel biasanya tidak mudah dekat dengan orang baru, tapi dia terlihat nyaman denganmu. Aku merasa lega." Lumina tersenyum. "Terima kasih. Nigel anak yang cerdas. Aku yakin dia akan cepat berkembang. Aku pamit dulu. Besok malam aku akan kembali lagi.”

Keluarga Yang Dingin

Di hari kedua, Lumina kembali ke mansion megah Nigel. Pelayan mempersilahkannya masuk dan Lumina langsung menuju ke kamar Nigel. Dia melangkah pelan di sepanjang koridor rumah megah itu, tangannya menggenggam erat tali totebag yang disampirkan di bahunya. Suara langkah kakinya bergema di lantai marmer yang mengilap, menambah kesan sunyi yang sudah menyelimuti rumah itu sejak dia datang. Ketika melangkah masuk menuju ruangan tengah, dia melihat seorang pria dengan perawakan yang sempurna. Pria itu tinggi dan gagah. Wajahnya tampan namun ada kesan yang sangat dingin dalam ekspresinya. Langkah Lumina terhenti dan mereka saling menatap dalam beberapa detik hingga pria itu mengeluarkan suara baritonnya yang berat dan dingin. “Siapa kau?” “Halo, Tuan. Aku Lumina, guru privat Nigel.” Lumina menjawabnya dengan tenang dan sopan meskipun ada gemuruh besar di dalam d*****a ketika melihat pria tampan itu. Pria itu tak mengatakan apa pun, lalu Annie, ibu Nigel keluar dari area ruang makan. "Jadynn, dia Lumina. Guru Nigel," kata Annie, suaranya datar namun penuh hormat. Jadynn menyipitkan matanya yang tajam dan dingin menatap Lumina seolah sedang menilai setiap inci dari dirinya. Dia tidak tersenyum, hanya mengangguk singkat. “Lumina, dia suamiku, Jadynn. Oh ya, Nigel sudah menunggumu di kamar,” kata Annie dengan senyumnya. Lumina mencoba tersenyum dan mengangguk, meskipun hatinya berdebar kencang. "Senang bertemu denganmu, Tuan Jadynn." Jadynn tidak membalas senyumannya. Dia hanya mengalihkan pandangannya lalu Lumina kembali melangkah menuju kamar Nigel. Dari kejauhan, dia mendengar perdebatan antara Annie dan Jadynn. Dan dia berusaha cuek dengan hal itu karena bukan urusannya. * * Lumina masuk ke dalam kamar Nigel dan bocah kecil itu tampak sedang bermain dengan pengasuhnya. “Hai, Nigel. Kau sudah menungguku?” Nigel menoleh dan mengangguk. Lumina tersenyum dan kemudian menyiapkan buku-bukunya. “Ayo, kita mulai belajar. Aku akan membuat sesi belajar ini sangat menyenangkan untukmu.” Nigel mengangguk penuh semangat. Meskipun tak banyak bicara, Nigel terlihat senang dengan kedatangan Lumina yang membuatnya merasa diperhatikan. * * Satu jam kemudian, Lumina memberikan waktu pada Nigel untuk istirahat sejenak. Dia tak ingin masa bermain Nigel terabaikan karena Nigel masih kecil. “Nanny, aku ingin ke kamar mommy sebentar,” kata Nigel pada pengasuhnya yang selalu menemaninya. “Mommy sedang keluar. Bagaimana jika kita ke dapur saja mengambil kue yang dibuat oleh bibi? Mungkin Miss Lumi juga mau.” Nigel mengangguk. “Aku saja yang mengambilnya. Nanny tunggu di sini. Aku bisa mengambilnya sendiri,” kata Nigel. Sang Nanny tersenyum. “Baiklah. Nanny akan menunggu dengan Miss Lumi di sini. Ingat, jangan ke ruangan kerja daddy, oke?” Nigel mengangguk mengerti lalu keluar dari kamar. Lumina melihat kepergian Nigel dan kemudian menatap wajah Nanny yang terlihat kasihan pada Nigel. Namun Lumina tak menanyakan apa pun karena sekali lagi itu bukan urusannya. Tapi, beberapa detik kemudian sang Nanny mengatakan sesuatu. “Kasihan dia … tak mendapatkan perhatian dari ibunya bahkan dari Tuan Jadynn. Meskipun dia mendapatkan segalanya, tapi dia sangat kurang kasih sayang,” gumam Sang Nanny yang bernama Lidya itu. Lumina menolah dan menutup bukunya. “Kenapa bisa begitu? Apakah mereka sibuk?” “Tidak.” Lidya menghela napasnya dengan berat. “Hubungan orang tuanya tak harmonis. Semuanya sudah rumit sejak awal. Sebenarnya, Tuan Jadynn adalah tunangan kakak Nyonya Annie, tapi ibu Nigel itu membuat hubungan mereka hancur karena dia mengatakan telah mengandung anak Tuan Jadynn. Dari gosip yang kudengar, mereka pernah tak sengaja melakukannya dan akhirnya Nyonya Annie hamil. Lalu mereka akhirnya menikah karena permintaan keluarga Nyonya Annie. Tapi, setelah dites DNA, Nigel bukanlah anak Tuan Jadynn. Dan mirisnya lagi, Ellie, kakak Nyonya Annie tak ingin kembali pada Tuan Jadynn. Sekarang dia juga sudah menikah. Percintaan segitiga yang sangat rumit, bukan? Dan korbannya adalah Nigel.” Lidya menceritakannya dengan detail pada Lumina. “Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?” tanya Lumina. “Aku baru dua hari kerja di sini.” “Agar kau tahu situasi keluarga ini dan bisa mengambil sikap nantinya. Aku … akan berhenti bekerja bulan ini. Aku akan menikah dan sebenarnya aku berat meninggalkan Nigel. Tapi aku tak punya pilihan karena aku harus mengikuti calon suamiku. Itulah kenapa Nyonya Annie mencari pengasuh lagi tapi tak ada yang cocok. Hingga akhirnya dia memilihmu. Meskipun kau hanya akan mengajar dua jam, tapi setidaknya kau akan di sisi Nigel ketika dia akan tidur malam nanti. Selebihnya, Nigel akan masuk sekolah full day.” Lumina mengangguk dan merasa sedih dengan nasib Nigel. Meskipun berlimpahan harta, tapi Nigel jarang merasakan kehangatan keluarga pada umumnya. “Bukankah sebaiknya mereka bercerai? Karena ini tak baik untuk Nigel dan untuk mereka berdua pastinya.” Lidya mengangguk. “Kau benar, tapi kita tak bisa melakukan apa pun karena itu bukan urusan kita. Mungkin Tuan Jadynn punya kesapakatan lain dengan Nyonya Annie. Tak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka. Orang-orang kaya selalu memiliki sisi gelap, dan itu sangat menakutkan. Mereka tak terlihat seperti dari luar. Terlalu banyak skandal yang terjadi di lingkungan mereka.” “Ya, itu memang bukan urusan kita.” Lumina mengangguk.

Rahasia Di Balik Mansion Megah Itu

Malam itu, langit di atas kota kecil Willowbrook dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip, seolah menyaksikan segala rahasia yang tersembunyi di balik dinding-dinding rumah penduduknya. Lumina pergi ke rumah keluarga Kingsford seperti biasa untuk mengajar les pada Nigel. Dia membawa beberapa buku yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan untuk dia berikan pada Nigel sebagai bahan pembelajaran. Ketika sampai di halaman mansion megah itu, dia melihat Jadynn Kingsford sedang berjalan menuju mobilnya sambil membawa koper. Lumina menyapanya hanya dengan anggukan saja karena pria itu begitu dingin dan tak bersahabat. Tak lama, Jadynn pun pergi dari hadapannya menggunakan mobil mewahnya bersama sang supir. Lumina lanjut melangkah dan melihat pelayan dj depan pintu. Lumina menyapanya dengan hangat. “Halo, Bibi.” “Halo, Nona Cantik.” Pelayan itu tersenyum lebar ketika melihat Lumina. “Hmm … Tuan Jadynn pergi kemana, Bi?” tanya Lumina ingin tahu. “Seperti biasa. Ke luar negeri. Setiap bulan dia selalu pergi ke luar negeri. Ayo masuk, Nigel sudah menunggu di dalam.” Lumina mengangguk dan kemudian berjalan masuk ke dalam mansion yang terasa dingin itu. “Bibi akan siapkan kue dulu untuk kalian,” kata pelayan. “Oke, Bibi. Kami akan tunggu di kamar Nigel.” Lalu Lumina berjalan ke arah koridor di mana kamar Nigel berada. * * Satu jam berlalu dan waktunya Nigel istirahat. Lumina pamit pergi ke dapur untuk mengambil minuman terlebih dulu. “Aku ingin pergi ke dapur dulu, kau tunggu di sini ya,” kata Lumina pada Nigel yang kini sedang menggambar. Nigel mengangguk dan kembali melanjutkan gambarnya. Lumina beranjak pergi dari kamar dan pergi keluar kamar. Tapi, saat Lumina lewat di depan pintu kamar Annie, dia mendengar suara d*****n pria dari dalam kamar itu. Suara itu jelas bukan suara Jadynn, suami Annie, melainkan suara pria asing yang tidak dikenalnya. Rasa penasaran membuatnya berhenti sejenak. Dia tahu seharusnya tidak ikut campur, tapi hatinya merasa tidak nyaman. Perlahan, dia mendekati pintu kamar Annie, yang ternyata tidak tertutup rapat. Dari celah pintu, Lumina melihat Annie sedang duduk di sofa bersama seorang pria tinggi berambut cokelat. Mereka terlihat be'rcintа dengan liarnya di atas sofa, dan Lumina terkejut melihat itu. d*****a berdebar kencang. Dia tidak ingin percaya apa yang dilihatnya. Annie, wanita yang merupakan ibu Nigel sekaligus istri Jadynn Kingsford, ternyata berselingkuh. Lumina merasa kebingungan. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Lalu akhirnya Lumina menghindar dan melangkah cepat, kabur dari tempat itu. Lumina tidak bisa pura-pura tidak melihat apa-apa tadi. Tapi, dia memilih untuk tidak ikut campur. Dia tahu ini bukan urusannya, dan dia tidak ingin merusak pekerjaannya yang bergaji tinggi dengan ikut campur masalah keluarga itu. Dengan hati berat, dia berjalan cepat ke dapur dan mengambil minuman di sana. Setelah itu dia kembali ke kamar Nigel. Lumina mencoba mengalihkan pikirannya dengan menemani Nigel menggambar dan juga bermain. Dia merasa iba dengan nasib Nigel. Terlahir di keluarga kaya raya dan memiliki semua fasilitas lengkap, tapi keluarganya sama sekali tak memberinya kehangatan. * * ‘Apakah Jadynn tahu ini? Tahu bahwa istrinya berselingkuh di belakangnya? Keluarga ini penuh dengan skandal. Atau apakah Jadynn juga berselingkuh hingga selalu pergi ke luar negeri setiap bulan? Keluarga macam apa ini?’ batin Lumina sambil melihat Nigel yang kini telah tidur nyenyak di pangkuannya. “Apakah takdir membawaku kemari untuk menyelamatkanmu, Nigel? Betapa sedihnya nasibmu,” bisiknya sambil mengusap lengan rapuh itu. * * Mansion besar itu berdiri megah di tengah hamparan taman yang luas, dikelilingi oleh pagar besi tinggi yang seolah memisahkannya dari dunia luar. Di balik dinding-dindingnya yang kokoh, tersimpan rahasia-rahasia keluarga yang kelam. "Miss Lumi, kenapa nanny pergi?" tanya Nigel malam itu setelah selesai belajar, matanya penuh dengan tanda tanya khas anak kecil. Lumina tersenyum lembut, mengusap lembut rambut Nigel yang berwarna cokelat. "Kadang-kadang orang harus pergi untuk melewati fase baru, Nigel. Dan nanny Lidya akan melewati itu. Tapi kau masih punya aku, kan?" Nigel mengangguk, tapi wajahnya masih terlihat sedih. "Aku suka Miss Lumi. Seandainya Miss Lumi adalah mommy-ku, aku akan sangat bahagia.” Ucapan Nigel membuat hati Lumina meleleh sekaligus sedih. Dia tahu Nigel membutuhkan sosok yang bisa memberinya perhatian dan kasih sayang, terutama karena kedua orang tuanya sering sibuk dengan urusan mereka sendiri. “Kau tak boleh seperti itu. Mommy Annie juga sayang padamu. Hanya saja, dia mungkin sedang sibuk saat ini.” Nigel hanya mengangguk saja, entah mengerti atau tidak. * * Suatu hari, jadwal mengajar Lumina diubah menjadi siang hari selama seminggu karena Nigel libur sekolah. Lumina tidak keberatan, karena itu berarti dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Nigel. Namun, di balik perubahan jadwal itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Pada hari pertama jadwal baru itu, Lumina tiba di mansion pukul sebelas siang. Saat dia berjalan menuju kamar Nigel, dia melihat Annie, ibu Nigel, sedang berbicara dengan seorang pria asing di ruangan tengah. Pria itu bukan pria yang dia lihat malam itu, dan dari cara mereka berinteraksi, Lumina bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia mencoba mengabaikannya, berpikir bahwa mungkin itu hanya teman atau kolega Annie. Tapi keesokan harinya, Lumina kembali melihat Annie bersama pria yang sama. Kali ini, mereka terlihat keluar dari kamar. Annie hanya tersenyum kecil pada Lumina seakan apa yang dilakukannya tak salah. “Hai, Lumina. Kau sudah datang? Aku akan keluar sebentar dengan temanku. Aku titip Nigel, ya?” Lumina hanya mengangguk saja dan berjalan santai dengan pria itu. Tampaknya semua pelayan sudah tahu skandal ini dan semua kompak tutup m***t. Hatinya berdebar kencang. Dia tidak ingin percaya apa yang dilihatnya, tapi dia tahu dia tidak bisa ikut campur. Ini bukan urusannya. * * Selama seminggu itu, Lumina terus melihat pertemuan rutin Annie dengan pria asing itu. Setiap siang, saat Jadynn pergi ke perusahaannya, Annie sering menghabiskan waktu dengan pria itu di dalam kamarnya. Lumina merasa hatinya semakin berat. Dia tahu dia harus fokus pada Nigel, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan apa yang terjadi di sekitarnya.

Makan Malam Yang Dingin

Hari itu, langit di atas kota Willowbrook terlihat kelabu, seolah mencerminkan suasana hati Lumina. Setelah seharian berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk dan persiapan ujian, dia merasa lelah secara fisik dan mental. Namun, dia tahu dia tidak bisa beristirahat dulu. Malam ini, dia harus kembali ke mansion Kingsford untuk mengajar Nigel, bocah lima tahun yang sudah seperti adik kecilnya sendiri. Meskipun lelah, Lumina selalu merasa senang saat bisa menghabiskan waktu dengan Nigel. Bocah itu adalah satu-satunya cahaya di tengah suasana dingin dan misterius yang menyelimuti mansion. Setelah tiba di asrama, Lumina langsung mengganti bajunya dengan cepat. Dia memilih pakaian yang sederhana namun rapi, seperti biasa. Sebelum pergi, dia melirik jam di dinding. Pukul enam sore. Biasanya, dia baru berangkat pukul 7 malam, tapi hari ini dia memutuskan untuk pergi lebih awal. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya, seolah ada sesuatu yang menunggunya di mansion itu. Saat tiba di mansion pukul 7 malam, Lumina merasa suasana di sekitarnya berbeda dari biasanya. Pagar besi tinggi yang biasanya tertutup rapat, kali ini terbuka sedikit. Dia menghela napas, mencoba menenangkan diri sebelum mengetuk pintu. Sebelum sempat melakukannya, pintu itu terbuka, dan di hadapannya berdiri pelayan mansion. "Miss Lumina? Sudah datang?" sapa pelayan tua tua itu dengan ramah. Matanya yang hangat menatap Lumina seolah senang dengan kedatangan wanita muda itu. "Selamat sore, Bibi," balas Lumina, sedikit rileks dan tersenyum. “Ayo masuk. Semuanya masih ada di meja makan untuk makan malam.” “Makan malam? Sepertinya aku datang di waktu yang tak tepat.” “Tidak, biasanya juga mereka jarang makan malam bersama. Nigel ulang tahun dan Tuan Jadynn yang menginginkan makan malam ini,” bisik pelayan. “Dia ada di rumah?” “Hmm.” Pelayan mengangguk. Meskipun sudah cukup lama mengajar di sana, tapi Lumina sangat jarang bertemu Jadynn, dan setiap kali bertemu, dia selalu merasa seperti sedang diuji nyali karena tatapan tajamnya itu. Lalu mereka berdua berjalan menuju ruang tengah, namun ketika melewati ruang makan—Annie memanggilnya. “Lumi! Kemarilah!” Lumina menoleh dan mengangguk sopan. Dia melihat Jadynn sekilas tapi pria itu tampak tak peduli. “Miss Lumi!!” panggil Nigel dan beranjak dari kursinya lalu memeluknya. Lumina menangkapnya dan menggendongnya. “Kau ulang tahun ya? Selamat, Boy. Semoga kau mendapatkan semua yang terbaik.” Lumina m******p kening Nigel. “Lumi, duduklah. Ayo, makan malam bersama kami," kata Annie lagi sambil tersenyum. Lumina menurunkan Nigel dan berjalan menuju meja makan sambil menggandeng tangan kecil Nigel. Lumina canggung. Biasanya, dia hanya mengajar Nigel di kamarnya, dan jarang sekali diajak makan malam bersama. Tapi itu karena keluarga itu memang jarang makan malam bersama. Dengan hati yang sedikit gugup, dia duduk tepat di samping Jadynn karena Annie duduk di ujung meja. Lalu pelayan mengambilkan Lumina makan dan kebetulan Lumina memang masih belum makan. "Lumina, aku senang kau bisa bergabung. Ayo, makanlah." Lumina mengangguk. Meja makan itu terlihat mewah, dengan peralatan makan yang terbuat dari perak dan piring-piring mahal pastinya. Namun, suasana di sekitarnya terasa dingin dan kaku. Tak ada obrolan yang mengalir lancar, hanya suara sendok dan garpu yang sesekali berdenting. Nigel, seperti biasa, adalah satu-satunya yang mencoba memecah keheningan. "Miss Lumi, kau tak memberiku hadiah?” Lumina tersenyum, mencoba merespons dengan antusias. "Kau ingin hadiah apa?” tanya Lumina dengan lembut sambil mengusap b***r Nigel yang belepotan. “Aku ingin kau,” jawab Nigel dengan polosnya. Annie tertawa, berbanding terbalik dengan Jadynn yang masih berwajah dingin. “Dia sangat mencintaimu, Lumi. Dia bilang padaku ingin menikahimu. Ada-ada saja,” kata Annie sambil tersenyum. Lumina hanya tersenyum dan mengacak rambut Nigel. “Kau bisa meminta hadiah lain, Nigel.” “Kenapa?” Lumina mencubit pelan hidung Nigel. “Aku lebih suka pria dewasa dan tinggi,” jawab Lumina bercanda. “Kalau begitu, tunggu aku tinggi seperti Daddy.” Semua langsung terdiam ketika mendengar ucapan Nigel. Annie kemudian kembali mencairkan suasana canggung itu. “Nigel, ayo habiskan makanmu. Setelah itu kau belajar dengan Miss Lumi.” Nigel kemudian mengangguk dan kembali m*****n makanannya. Lumina melirik sekilas ke arah Jadynn. Dan sialnya, pria itu juga melihat ke arahnya. Dia langsung memalingkan wajahnya dan melihat ke arah piringnya. d*****a berdebar setiap melihat pria dingin itu. Tapi bukan rasa takut yang dirasakannya, melainkan rasa aneh yang berdesir di seluruh tubuhnya. Lumina merasa seperti terjebak di tengah ketegangan yang tidak terlihat. Apalagi dia tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Jadynn dan Annie. * * Setelah makan malam yang terasa sangat panjang, akhirnya Lumina dan Nigel pun berjalan bersama ke kamar. “Lumi, tunggu!” panggil Annie dan langkah Lumina berhenti. Lumina menoleh ke arah Annie. “Ya, Annie?” “Bisakah kau menginap di sini malam ini?” Lumina melebarkan matanya. “Menginap?” “Ya, aku harus pergi ke luar kota karena ada urusan.” Lumina berpikir sejenak, meskipun dia enggan tapi dia tak bisa menolak apalagi melihat wajah Nigel yang berharap. "Baiklah.” Annie tersenyum senang. "Kau baik sekali, Lumi. Nigel sangat menyukaimu. Aku senang dia punya seseorang sepertimu." Lumina merasa hatinya hangat mendengar pujian itu, tapi dia juga merasa sedih melihat Nigel seperti ini. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres dalam keluarga ini, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Lalu Lumina dan Nigel kembali melangkah ke ruang belajar Nigel.

Ajakan Jadynn

Malam telah larut, dan mansion megah itu tetap sunyi senyap seperti biasanya. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, mengisi lorong-lorong panjang yang diterangi lampu temaram. Lumina, dengan langkah hati-hati, keluar dari kamar Nigel setelah memastikan bocah kecil itu telah terlelap. Wajahnya yang polos dan tenang saat tidur membuat Lumina tersenyum. Meskipun Nigel adalah anak yang hidup dalam kemewahan, ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya. Bocah itu kehilangan figur ayah dan ibunya, meskipun mereka masih hidup. Nigel sebenarnya sudah tidak perlu lagi ditemani tidur sejak nanny-nya pergi. Namun, malam itu, dia meminta Lumina untuk menemaninya sampai dia tertidur. Lumina, yang sebenarnya adalah guru privat Nigel, tidak bisa menolak permintaan itu. Dia sangat menyayangi Nigel, dan bocah itu selalu mengingatkannya pada anak-anak panti asuhan tempat dia tinggal dulu. Meskipun hidupnya dulu penuh dengan kesulitan, Lumina merasa bahwa Nigel, dengan segala kemewahannya, justru lebih membutuhkan kasih sayang daripada yang dia kira. Setelah memastikan Nigel benar-benar tertidur, Lumina berjalan menuju kamar tamu yang telah disiapkan untuknya oleh pelayan. Kamar itu terletak persis di sebelah ruang kerja Jadynn, ayah Nigel. Lorong yang dilaluinya sepi, hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu dinding. Tiba-tiba, dari ujung lorong, muncul sosok tinggi tegap yang membuat jantung Lumina berdebar kencang. Jadynn, dengan mengenakan piyama hitamnya, membawa gelas berisi wine di tangannya. Tampaknya dia baru saja keluar dari ruang kerjanya. Mereka belum pernah benar-benar mengobrol sebelumnya. Jadynn selalu terlihat dingin dan menjaga jarak, sementara Lumina merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Sikapnya yang misterius dan tatapannya yang tajam membuat Lumina merasa kecil dan takut. Namun, di balik ketakutannya, ada sesuatu yang menarik tentang pria itu. Sesuatu yang membuatnya penasaran. Lumina mencoba untuk melewati Jadynn dengan cepat, mengangguk hormat sebagai tanda penghormatan. Namun, sebelum dia sempat masuk ke kamarnya, suara rendah Jadynn memanggilnya. "Lumina," ujarnya, suaranya dalam dan tenang, namun penuh dengan otoritas. Lumina berhenti, jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh perlahan, mencoba untuk tidak menunjukkan ketakutannya. "Ya, Tuan Jadynn?" tanyanya, suaranya hampir bergetar. "Mau temani aku minum?" tanya Jadynn, mengangkat gelas wine di tangannya. "Aku tidak ingin minum sendirian malam ini. Dan … kita mungkin perlu sedikit mengobrol karena aku belum benar-benar mengenalmu selama kau bekerja di sini.” Lumina terkejut. Dia tidak pernah membayangkan akan diajak minum oleh Jadynn. Pria itu selalu terlihat begitu jauh dan tidak tertarik pada orang lain, terutama pada dirinya. Namun, dia tidak bisa menolak. Ada sesuatu dalam suara Jadynn yang membuatnya tidak bisa berkata tidak. "Baik, Tuan Jadynn," jawabnya, mencoba untuk terdengar tenang. “Panggil saja aku Jadynn.” Lumina mengangguk canggung. Mereka pun berjalan menuju ruang tengah besar yang terletak di lantai tiga, lantai teratas di mansionnya. Ruangan itu dipenuhi dengan perabotan mewah dan lukisan-lukisan mahal yang menggambarkan pemandangan alam. Jadynn duduk di sofa besar, sementara Lumina duduk di seberangnya, merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Jadynn menuangkan wine ke dalam gelas lain dan memberikannya kepada Lumina. "Kau tidak perlu gugup," ujarnya, seolah bisa membaca pikiran Lumina. "Aku hanya ingin ada seseorang untuk diajak bicara malam ini." Lumina mengangguk, mencoba untuk rileks. Dia mengambil gelas itu dan m******p wine-nya perlahan. Rasanya manis, tapi ada sedikit kepahitan yang tersisa di lidahnya. "Terima kasih, Tuan Jadynn. Hmm … Jadynn," ralatnya. Mereka duduk dalam keheningan untuk beberapa saat, sebelum Jadynn akhirnya memecah kesunyian. "Bagaimana Nigel hari ini?" tanyanya, matanya tertuju pada Lumina. "Dia baik-baik saja," jawab Lumina. "Dia sudah tertidur. Dia memintaku untuk menemaninya sampai dia tertidur." Jadynn mengangguk, wajahnya tetap tenang. "Mungkin dia merasa nyaman denganmu." Lumina tersenyum kecil. "Aku hanya mencoba untuk membuatnya merasa tenang. Dia anak yang baik, tapi aku rasa dia membutuhkan lebih banyak perhatian." Jadynn menatap Lumina dengan tatapan yang dalam, seolah mencoba untuk memahami apa yang ada di pikiran wanita itu. "Kau baik padanya," ujarnya. "Aku bisa melihat itu. Bahkan melebihi Annie.” Lumina merasa wajahnya memanas. Dia tidak terbiasa menerima pujian, terutama dari seseorang seperti Jadynn. "Aku hanya melakukan apa yang saya bisa. Kurasa Annie juga baik padanya, hanya saja dia mungkin ter—“ “Dia bahkan ingin menggugurkannya dulu,” potong Jadynn. Lumina m*******t b******a, tak tahu harus menjawab apa. Dan dia cukup terkejut karena Jadynn menceritakan itu padanya. “Kau pasti sudah mendengar tentang hubungan buruk kami dari para pelayan. Atau mungkin kau bisa melihatnya sendiri bagaimana keadaan di rumah ini,” lanjut Jadynn. “Mengapa kau tak pernah bersama Nigel? Maaf, aku tahu bahwa ini bukan urusanku. Hanya saja, aku ingin tahu alasanmu,” tanya Lumina ragu. Jadynn menghela napas, matanya menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke taman belakang. "Dia bukan putraku," ujarnya, suaranya terdengar berat. "Terdengar jahat, tapi … aku tetap tak bisa menerimanya. Dan kau juga pasti tahu fakta tentang Nigel. Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa menerimanya.” Lumina merasa hatinya sedikit sedih oleh kata-kata Jadynn. Lumina bisa merasakan kesedihan yang tersembunyi di balik sikap dingin Jadynn.

Jadynn Yang Memancing

“Nigel adalah anak yang kuat," ujar Lumina, mencoba untuk menghibur Jadynn. "Dia akan baik-baik saja, asalkan dia tahu bahwa ada orang yang mencintainya. Aku mengerti posisimu tapi tidak bisakah kau setidaknya menganggapnya ada? Dianggap tak ada adalah hal yang paling menyakitkan. Dan Nigel akan selalu memendam trauma itu sampai dewasa.” Jadynn menatap Lumina lagi, matanya penuh dengan pertanyaan. "Jika kau ada diposisiku, apakah kau bisa mencintainya?" tanyanya, suaranya terdengar serius. Lumina terkejut dengan pertanyaan itu. Dia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Dia merenung, dia menyadari bahwa dia memang mencintai Nigel. Bocah itu telah menjadi bagian penting dalam hidupnya, meskipun mereka baru mengenal satu sama lain dalam waktu yang singkat. Tapi bagaimana jika dia ada di posisi Jadynn? Apakah dia bisa mencintai anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri? Terlebih itu adalah anak dari hasil perselingkuhan yang licik. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku belum pernah mengalami hal seperti itu, dan tak pernah ingin mengalaminya. Tapi untuk saat ini, aku sangat menyayangi Nigel,” jawab Lumina. Jadynn tersenyum kecil, senyum yang jarang terlihat di wajahnya. "Aku senang Nigel memiliki seseorang seperti dirimu." Mereka kembali terdiam, tapi kali ini keheningan itu terasa lebih nyaman. Lumina merasa bahwa ada dinding yang mulai runtuh antara dirinya dan Jadynn. Pria itu tidak lagi terlihat begitu dingin dan jauh. Ada sisi lain dari dirinya yang mulai terlihat, sisi yang lembut namun penuh dengan kerapuhan. "Kau tahu, Lumina," ujar Jadynn tiba-tiba, memecah keheningan. "Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan orang-orang di sekitarku. Tapi bagiku kau ... berbeda." Lumina merasa jantungnya berdegup kencang lagi. Dia tidak tahu bagaimana harus merespons kata-kata itu. "Aku ... tidak mengerti," ucapnya, suaranya hampir berbisik. Jadynn menatapnya dengan intens, matanya seolah mencoba untuk menembus jiwa Lumina. Lumina merasa dirinya terseret dalam emosi yang tidak bisa dia kendalikan. Dia tidak pernah membayangkan bahwa pria seperti Jadynn bisa merasakan sesuatu padanya. Tapi di saat yang sama, dia tahu bahwa ini adalah situasi yang berbahaya. Jadynn adalah pria yang sudah menikah, meskipun pernikahannya tidak bahagia. "Apa rencanamu setelah lulus kuliah?” tanya Jadynn mengalihkan pembicaraan. “Aku … sudah direkrut oleh sebuah perusahaan.” “Aku punya penawaran untukmu. Aku tahu nilai akademismu sangat sempurna. Bagaimana jika kau bekerja di perusahaanku? Jenjang karirmu akan bagus,” kata Jadynn dengan sikap tenangnya. “Aku … akan memikirkannya. Ini tawaran yang sangat bagus. Terima kasih.” Lumina mengangguk sopan. “Maaf, aku akan kembali ke kamarku,” kata Lumina. Jadynn mengangguk. “Terima kasih sudah menemaniku mengobrol.” Lumina tersenyum. “Aku juga suka mengobrol denganmu. Permisi.” Lalu Lumina beranjak dan pergi dari ruangan itu. Jadynn menatapnya hingga punggungnya menghilang di balik pintu. * * Lumina menutup pintu kamarnya dengan gemetar. d*****a berdegup kencang, seolah jantungnya ingin melompat keluar. Napasnya tersengal, dan tangannya yang dingin menekan d**a, mencoba menenangkan diri. ‘Aku melihatmu berbeda, Lumina.’ Kalimat itu terus bergema di kepalanya. Suara Jadynn yang dalam, serak, penuh dengan sesuatu yang seharusnya tidak ada. Sesuatu yang berbahaya. Dia meremas ujung bajunya. “Tidak. Ini salah. Jadynn sudah menikah. Dan aku tak boleh memikirkan hal gila tentangnya.” Meskipun pernikahannya dengan Annie jauh dari bahagia, tetaplah—Jadynn bukan pria bebas. Dan Lumina? Dia hanyalah seorang pengajar Nigel yang dipekerjakan untuk mengajari anak laki-laki Annie. Tapi kenapa ... kenapa perasaannya tidak mau mendengarkan logika? Lumina duduk di tepi tempat tidurnya, wajahnya tertanam di telapak tangan. Lumina bukan orang yang bisa membenarkan perasaannya hanya karena pernikahan Jadynn dan Annie tidak bahagia. “Aku tak boleh lagi menerima ajakannya untuk mengobrol. Ini akan semakin berbahaya. Aku harus fokus dengan pekerjaanku di sini dan juga pada kuliahku yang hampir selesai. Tapi bisikan lain di hatinya lebih keras. ‘Apa salahnya menyukai Jadynn?’ Lumina menggelengkan kepalanya. “Aaah … ini membuatku gila. Semoga Annie segera pulang secepatnya dan aku tak akan bertemu lagi dengannya.” * * Matahari pagi menyinari ruang makan megah melalui jendela-jendela tinggi yang dihiasi tirai sutra. Meja panjang dari kayu mahoni dipenuhi hidangan sarapan mewah—croissant hangat, buah-buahan segar, telur dadar dengan truffle, dan teh Earl Grey yang baru diseduh. Suasana yang biasanya sepi, pagi ini terasa berbeda. Nigel dengan rambut cokelat ikal yang selalu rapi, duduk di kursinya dengan mata berbinar-binar. Ini jarang terjadi—sang ayah, Jadynn, duduk di ujung meja, sambil menyeduh kopinya. "Daddy akhirnya sarapan bersamaku!" seru Nigel gembira, kaki kecilnya mengayun-ayun tak sabar. Jadynn mengangkat kepalanya, memberikan senyum kecil yang jarang ditunjukkannya. "Aku punya waktu hari ini." Tapi mata tajamnya tidak melihat ke arah putranya. Mata itu menatap Lumina. Lumina duduk di sebelah bocah itu dengan postur kaku. Dia berusaha fokus pada piringnya—sepotong croissant yang nyaris tidak tersentuh—tapi dia bisa merasakan tatapan itu. Tatapan Jadynn. Hangat. Intens. Terlalu jujur. "Miss Lumina, lihat! Daddy makan bersama kita!” Nigel tiba-tiba memegang lengannya, wajahnya berseri. Lumina tersentak, memaksakan senyum. "I-Itu bagus, Nigel." Dia tidak berani mengangkat kepala. Takut akan terjebak dalam pesona pria itu semakin dalam. "Kau tidak lapar?" Suara itu—dalam, serak, hanya ditujukan padanya—membuat Lumina nyaris menjatuhkan garpu. Dia akhirnya mengangkat wajah. Jadynn bersandar di kursinya, dasi longgar di lehernya, lengan terlipat yang membuat otot-ototnya terlihat di baliknya. Matanya, matanya seperti laut sebelum badai bagi Lumina. "Tidak, aku—" "Miss Lumina suka pancake, Daddy!" Nigel tiba-tiba menyela, mengacungkan sendoknya. "Dia bilang kemarin!" Jadynn mengangkat alis. "Benarkah?" Lumina ingin tanah menelannya. "Hanya ... kadang-kadang." Tanpa kata-kata, Jadynn mengangkat bel kecil di sampingnya. Pelayan segera muncul. “Katakan apa yang dia suka, Nigel?” tanya Jadynn. Nigel tersenyum lebar karena ayahnya berbicara dan bertanya padanya. "Pancake dengan maple syrup. Dan stroberi segar," sahutnya dengan semangat. Persis seperti yang Lumina suka. Lumina m*******t b***r bawahnya, merasa sedikit tak nyaman. Namun, ada rasa berdesir di hatinya karena Jadynn mau berinteraksi dengan Nigel. * * Sarapan berlanjut dengan Nigel yang terus bercerita tentang pelajarannya. Lumina berusaha fokus pada bocah itu—menanggapi, tersenyum, menjadi pengajar yang baik—tapi dia bisa merasakan panasnya tatapan Jadynn di setiap detik. Sampai akhirnya— "Daddy, hari ini ada pertemuan sekolahku!" Nigel tiba-tiba berseru. Jadynn terdiam sejenak. “Bisakah kau datang?” tanya Lumina. “Maaf, tidak bisa. Aku sibuk hari ini.” Jawaban Jadynn membuat senyum Nigel memudar. Lalu Lumina memegang tangan Nigel. “Jangan khawatir. Kan ada Miss Lumi yang akan menemanimu, hmm?” Lumina tersenyum pada Nigel. Nigel kembali tersenyum meskipun masih ada kekecewaan di matanya. "Baiklah, aku juga akan hadir,” sahut Jadynn tiba-tiba. Udara di ruangan itu seolah menghilang. Nigel melompat kegirangan. "Benarkah, Daddy? Benarkah?" Jadynn tidak menjawab putranya. Dia menatap Lumina. "Tentu. Meskipun mungkin aku akan datang sedikit terlambat.” Kalimat itu diucapkan dengan nada datar. Tapi Lumina tahu bahwa itu ditujukan untuk Lumina, bukan Nigel. * *

Datang Bersama

“Halo, Annie?” sapa Lumina pada Annie siang itu. “Lumi? Ada apa?” sahut Annie dari seberang telepon. “Ada acara pentas seni di sekolah Nigel, dan aku akan datang melihatnya.” “Wah itu ide yang bagus, Lumi. Terima kasih sudah menjaga Nigel untukku. Oh ya, sepertinya aku belum bisa pulang hari ini karena ada beberapa pesta yang harus kudatangi bersama teman sosialitaku.” Lumina terdiam sejenak mendengar itu, seakan merasa keberatan dan Annie merasakan hal itu. “Jangan khawatir, Lumi. Aku akan memberimu bonus besar nanti. Aku mohon jaga Nigel, oke?” “Tapi … sampai kapan? Aku cukup sibuk di kampus untuk menyelesaikan tugasku sebelum lulus.” “Hanya sebentar saja. Aku sudah membelikanmu banyak hadiah cantik. Kau pasti suka,” rayu Annie. “Aku … tak terlalu membutuhkan barang. Aku harap kau tak terlalu lama pergi. Kasihan Nigel harus—“ “Nigel sudah terbiasa tanpa aku. Dia sangat pintar dan mandiri,” potong Annie. “Tapi …” “Sudahlah, kau adalah orang yang paling kupercaya menjaga Nigel. Oke, aku akhiri dulu, salam untuk Nigel. Bye.” Dan sambungan itu pun terputus. Lumina menghela napasnya. “Ibu macam apa dia?” lirihnya. * * Siang itu, matahari bersinar terik di langit kota metropolitan. Lumina menghela napas panjang sebelum menutup pintu apartemennya. Ia mengenakan gaun casual berwarna pastel yang sederhana namun elegan, cocok untuk acara pentas seni di sekolah Nigel. Sebagai pengasuh sementara Nigel dan juga guru pengajarnya, dia merasa perlu hadir untuk memberikan dukungan pada anak itu karena Nigel memintanya. Namun, begitu kakinya melangkah keluar dari gedung apartemen, jantungnya berdegup kencang. Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap terparkir tepat di depan pintu keluar. Dan di sana, bersandar dengan santai di samping mobil, adalah Jadynn—pria yang menjadi bayang-bayang dalam pikirannya. "Jadynn?!" seru Lumina, matanya membelalak. "Apa yang kau lakukan di sini?" Jadynn tersenyum tipis dan terkesan dingin, senyum yang selalu membuat Lumina merasa antara senang dan gelisah. "Kita akan datang bersama. Aku tak pernah masuk ke sekolah Nigel sebelumnya.” Lumina mengerutkan kening. "Tapi ... bagaimana kau tahu alamat apartemenku?" Jadynn hanya mengangkat bahu, seolah itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab. "Ayo, kita bisa terlambat jika kau terus bertanya." Dengan perasaan setengah canggung, setengah bingung, Lumina akhirnya masuk ke dalam mobil mewah itu. Bau parfum Jadynn yang khas—kayu dan sedikit citrus—memenuhi kabin, membuatnya harus menahan napas sejenak karena darahnya berdesir hanya karena membayangkan yang tidak tidak. * * Sepanjang perjalanan, mereka berdua lebih banyak diam. Lumina tak berani memulai pembicaraan, dia merasa tak nyaman dengan situasi mereka. Itu seperti sedang berselingkuh padahal mereka tak melakukan apa pun. Sesekali Jadynn bertanya hal-hal seputar kuliahnya dan Lumina menjawabnya dengan sopan seperti pada atasannya. * * Sekolah Nigel adalah sebuah institusi bergengsi untuk anak-anak dari kalangan atas. Gedungnya megah, dengan taman yang luas dan fasilitas lengkap. Begitu mereka tiba, beberapa orang tua murid yang sedang berkumpul di halaman sekolah memandangi mereka dengan penasaran. Lumina dan Jadynn menghampiri seorang guru yang menyambut mereka. “Halo, selamat datang,” sapa sang guru. “Halo, kami keluarga Nigel, dan dia—“ sebelum Lumina melanjutkannya, Jadynn menjawab terlebih dulu. “Aku pamannya,” potong Jadynn yang tak ingin disebut ayah Nigel oleh Lumina. Lumina tertegun dan tampaknya Jadynn memang tak akan pernah mengakui Nigel sebagai putranya. * * "Lihat, itu pasti orang tua Nigel," bisik seorang ibu. "Selama ini kita tidak pernah melihat mereka. Ternyata ayahnya tampan sekali dan ibunya masih sangat muda," sahut yang lain. Lumina mendengar bisikan itu dan merasa telinganya memanas. Ia ingin membetulkan anggapan mereka, tapi Jadynn sudah memandangnya dengan ekspresi tak terganggu. "Biarkan saja," bisik Jadynn dengan wajah dinginnya. Lumina hanya bisa menghela napas. * * Di dalam aula sekolah, panggung kecil telah disiapkan untuk pentas seni hari itu. Kursi-kursi telah diatur rapi, dan para orang tua mulai memenuhi ruangan. Lumina dan Jadynn duduk di barisan tengah, tidak jauh dari panggung. Saat lampu diredupkan dan pertunjukan dimulai, Lumina segera melupakan segala kegelisahannya. Matanya mencari sosok kecil yang sangat dia kenal—Nigel. Ketika akhirnya Nigel muncul di atas panggung dengan kostum kecil sebagai tokoh dalam drama musikal, hati Lumina meleleh. "Lihat, dia lucu sekali. Dan dia tidak nervous sama sekali!" bisik Lumina dengan bangga. Jadynn mengangguk, tapi matanya tidak pernah lepas dari Lumina. Ia memperhatikan bagaimana sorot mata wanita itu berbinar-binar, bagaimana senyumnya mengembang setiap kali Nigel melakukan gerakan lucu di atas panggung. "Kau sangat menyayanginya, ya?" tanya Jadynn pelan. Lumina tidak langsung menjawab. "Dia anak yang pintar dan manis. Aku hanya ingin dia tahu bahwa ada orang yang selalu mendukungnya yaitu aku." Jadynn terdiam. “Kau suka anak kecil?” Lumina mengangguk. “Aku besar di panti asuhan, dan aku tahu bagaimana rasanya tidak diperhatikan dan tidak memiliki siapa pun.” Ucapan itu terkesan menyindir, tapi Jadynn tak terpengaruh. Dia justru asyik melihat wanita muda nan cantik itu di sebelahnya. * Sepanjang pertunjukan, Lumina terus memberikan semangat pada Nigel. Ia bertepuk tangan paling keras, tersenyum lebar, bahkan sesekali melambaikan tangan ketika Nigel melirik ke arahnya. Tapi di sisi lain, Jadynn hanya duduk diam. Pikirannya entah ke mana. Terang-terangan, dia memandang ke arah Lumina, mempelajari setiap ekspresi yang muncul di wajahnya. Dan Lumina tahu bahwa Jadynn melihatnya sejak tadi, tapi dia terlalu canggung untuk menghentikan apa yang dilakukan pria itu. Lumina merasa d*****a berdebar. Ia tidak tahu harus melakukan apa ketika ditatap sedalam itu oleh Jadynn. Untungnya, pertunjukan pun selesai, dan semua orang bertepuk tangan. Nigel, dengan wajah berseri-seri, melambai ke arah Lumina seolah mengatakan, "Aku berhasil!" Lumina membalas lambaian itu dengan senyum lebar. Tapi di dalam hatinya, ada pertanyaan yang mengganggu: Apa sebenarnya yang Jadynn inginkan darinya?

Rasa Yang Begitu Rumit

Setelah acara usai, beberapa orang tua mendekati mereka, berusaha berkenalan. "Kalian pasti orang tua Nigel, ya? Anak kalian sangat berbakat!" puji seorang ibu. Lumina membuka m***t untuk membantah, tapi sekali lagi, Jadynn lebih cepat. "Terima kasih," ujarnya singkat, sambil meletakkan tangan di punggung Lumina dengan santai, seolah menegaskan bahwa mereka memang bersama. Lumina hampir tersedak. Tapi sebelum dia bisa protes, Nigel sudah berlari ke arah mereka, wajahnya bersinar karena kegembiraan. "Kalian benar-benar datang!" seru Nigel, memeluknya erat. "Tentu saja, aku janji kan?" Lumina membalas pelukan itu, sambil mengusap rambut Nigel. Jadynn memperhatikan interaksi mereka dengan ekspresi yang tak bisa dibaca. "Dan ... Daddy juga datang?" Nigel melihat ke arah pria itu dengan mata berbinar. Jadynn hanya mengangguk dan sikapnya masih saja kaku pada Nigel, seolah enggan menyentuhnya sama sekali. Meskipun begitu, Nigel tetap tersenyum lebar. "Aku senang kalian berdua ada di sini." Kalimat sederhana itu membuat Lumina dan Jadynn saling memandang. Ada sesuatu yang tidak terucap di antara mereka—sesuatu yang mungkin, suatu hari nanti, harus mereka hadapi. Tapi untuk saat ini, biarkan saja. Biarkan cahaya kecil kebahagiaan Nigel menyinari mereka berdua, meski hanya untuk sesaat. * * Sore itu, udara terasa sejuk. Di dalam mobil mewah yang meluncur pelan, Nigel duduk di kursi penumpang dengan wajah berseri-seri. Pertunjukan seninya malam ini sukses besar, dan ia tak bisa berhenti bercerita tentang pujian yang diterimanya dari para kritikus dan koleganya. "Miss Lumi lihat tadi? Mereka berdiri! Mereka bertepuk tangan!" ujar Nigel dengan semangat, matanya berbinar. Jadynn, yang sedang menyetir, hanya tersenyum tipis dan Lumina menengok pada Nigel yang ada di belakang kursinya. "Ya, Nigel. Kau memang luar biasa." Suaranya ceria, dan Nigel sangat bersemangat. Lalu Lumina memandang keluar jendela, ponselnya tergenggam erat. Ia bahagia—Nigel berhasil, dan itu berarti pekerjaannya sebagai pengajar pribadinya tidak sia-sia. Lumina menghela napas dan memutuskan untuk menelepon Annie, ibu Nigel. Annie pasti ingin mendengar kabar baik ini. Ia menekan nomor Annie dan menunggu. “Nigel, Miss Lumi akan menelepon ibumu,” kata Lumina sambil menyalakan speakernya agar Nigel bisa mendengar suara Annie. Nigel hanya mengangguk saja. Satu dering. Dua dering. Lalu, suara seorang pria menjawab. "Hello?" Lumina membeku. Itu jelas bukan suara Annie, dan itu adalah suara seorang pria. Suara itu dalam, asing, dan terdengar serak seperti bangun tidur—seolah pria itu memang seharusnya ada di sana, di dekat Annie. Tanpa berpikir panjang, Lumina menekan tombol end call. Jantungnya berdegup kencang. “Itu pasti teman Mommy," kata Nigel dengan polos, yang masih asyik berbicara tentang pertunjukannya. "Tidak, bukan. Aku salah menekan nomernya. Itu salah sambung," jawab Lumina cepat, memaksakan senyum. Tapi matanya melirik sendikit ke arah Jadynn. Jadynn tak bereaksi—bertanya, atau setidaknya menunjukkan ekspresi heran. Dia begitu datar dan cuek, seakan tak mendengar apa pun. Jadynn tetap fokus menyetir, wajahnya tenang seperti biasa. “Tak perlu kau telepon. Dia tak akan peduli,” ucapnya lirih setelah beberapa menit kemudian. Pikiran itu menghantam Lumina. Jadynn pasti tahu sesuatu tentang itu dan sudah biasa menghadapi itu selama bertahun-tahun. Mobil terus melaju, membawa mereka kembali ke mansion megah milik Jadynn. * * Sesampainya di mansion, Nigel langsung menuju kamarnya dan Lumina mendampinginya bersama satu pelayan. Nigel ingin digantikan pakaiannya oleh Lumina dan ditemani tidur. Setelah dua jam kemudian, Nigel pun tidur dengan nyenyak setelah sempat makan disuapi oleh Lumina. “Bagaimana pentasnya tadi?” tanya sang pelayan, Bibi Maria. “Berjalan lancat,” jawab Lumina sambil tersenyum tapi ada tatapan sendu di matanya. “Kau pasti sedih melihatnya. Dia sangat butuh perhatian.” Lumina mengangguk pelan. “Sejak bayi, Nyonya Annie bahkan tak pernah memberinya ASI. Dia seperti sedang marah pada Tuan Jadynn dan melampiaskannya pada Nigel,” lanjut pelayan paruh baya itu. “Dia bukan barang, dia mahluk bernyawa, mengapa dia begitu disia-siakan. Jika aku bisa—aku ingin menjadikannya putraku saja. Dia sangat pintar dan sangat menurut.” Lumina menghela napasnya. “Kami juga heran, kenapa Tuan Jadynn tak menceraikan Nyonya Annie saja. Padahal jelas-jelas dia suka berselingkuh dengan banyak pria yang berbeda. Apakah ini karena Nigel?” Lumina mengedikkan bahunya. “Ya, mungkin saja. Kita hanya melihat dari luarnya saja. Hmm … tapi apakah menurut bibi—Tuan Jadynn juga memiliki wanita lain?” Maria menggelengkan kepalanya. “Kurasa tidak. Tuan Jadynn sangat dingin dan seperti malas berhubungan lagi dengan wanita. Dia tak pernah macam-macam karena aku sudah mengenalnya sejak dia kecil dulu.” Lumina mengangguk meskipun dia masih tak mengerti hubungan rumit antara Jadynn dan Annie. * * Beberapa menit kemudian, Lumina pergi ke dapur. Dia membuat kopi untuk menenangkan pikirannya. Lumina berusaha terlihat biasa saja, tapi pikirannya terus kembali ke telepon tadi. Annie tampaknya selalu ingin memancing Jadynn agar menoleh padanya, tapi Jadynn tak pernah peduli. "Kau baik-baik saja?" tanya Jadynn tiba-tiba, saat mereka berdua sendirian di dapur. Lumina terkejut dan hampir saja menumpahkan kopi yang dia pegang. Lumina mengangkat kepalanya dan menatap pria tampan itu. "Kau dengar telepon tadi, kan?" Jadynn mengangkat bahu. "Aku sedang menyetir. Tidak terlalu memperhatikan." Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat Lumina selalu heran dengan sikap Jadynn. "Jadynn, jika kau tahu sesuatu, kenapa kau tak—" "Lumi," potong Jadynn, suaranya rendah. "Kadang, lebih baik kita tidak mencari tahu hal-hal yang tidak perlu." Kalimat itu seperti pisau. Lumina merasa terlalu masuk ke dalam urusan keluarga Jadynn yang amburadul. “Kenapa kalian bercerai saja? Bukankah itu menyakitkan untukmu dan Annie?” Lumina dengan berani bertanya hal yang sebenarnya bukan urusannya. “Ini bukan urusanmu,” sahut Jadynn. Lumina terdiam, dan ya—itu bukan urusannya. Lumina meneguk salivanya dan beranjak dari kursi. “Maaf. Selamat malam, Tuan. Aku permisi dulu,” kata Lumina sambil menunduk hormat. Ketika Lumina akan pergi, Jadynn menarik tangannya dan membuat mereka berdiri dalam jarak yang sangat berdekatan. “Kenapa memanggilku seperti itu?” lirih Jadynn dan menatap mata indah Lumina. Lumina tak langsung menjawab karena wajahnya begitu dekat dengan Jadynn. “Le-lepaskan aku,” bisiknya. “Kita berdiri terlalu dekat dan tak seharusnya kita—“ Sebelum Lumina melanjutkan ucapannya, Jadynn memotongnya dengan sebuah c****n mendadak di b******a.
👉Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik
Lanjut Baca