Tetanggaku Perjaka Tua
“Om!!” panggil seorang gadis bernama Caroline Hazal.
Gadis cantik dan bar-bar itu akrab disapa Lili.
Gadis yang mengenakan almamater sebuah universitas tersebut sedang berdiri di halaman rumahnya yang kebetulan tersambung dengan halaman rumah tetangganya.
Tetangga Lili bernama Arjuna Budiman, seorang pria berusia matang, akan tetapi di usianya yang sudah hampir menginjak tiga puluh lima tahun itu, ia masih melajang.
Hal tersebut yang membuat Lili penasaran, gadis yang berkuliah di jurusan psikologi itu merasa penasaran kenapa seorang pria tidak tertarik kepada lawan jenisnya.
Dan hal itu ia lihat pada Arjuna, karena selama ini Arjuna belum pernah dekat dengan perempuan manapun, bahkan pria itu selalu sendiri di rumahnya.
Karena kedua orang tuanya sudah tiada sejak lama.
Sebenarnya Arjuna memiliki seorang adik laki-laki bernama Dewangga yang masih duduk di bangku kuliah.
Namun, Dewa lebih memilih tinggal di kos-kosan daripada di rumah bersama dengan kakaknya yang dingin dan irit bicara.
“Om Arjun!!!” panggil Lili untuk yang kedua kalinya, karena sang pemilik nama masih terdiam, Arjuna hanya fokus pada motor kesayangan.
Ya, saat ini Arjuna sedang membersihkan motor legenda yang lebih sering ia bawa daripada dua mobil yang terparkir di garasi rumahnya.
Entah apa yang membuat pria itu lebih suka menaiki motor tua itu daripada mobil yang terbilang cukup mewah.
“Om Arjun, telinganya masih berfungsikah?” teriak Lili dengan suara lebih keras lagi.
Pria berkulit hitam manis dan memiliki kumis tipis itu menghentikan kegiatannya yang sedang mengelap motor kesayangannya.
Arjuna memasukkan kanebo yang sedari tadi dipegangnya ke dalam ember berisi air dan buih busa pembersih.
“Hmmm … kirain semut yang teriak-teriak.” Arjuna menoleh ke arah Lili.
“Njir, mana ada semut cantik dan seksi begini?” Lili melenggak-lenggokkan tubuhnya.
“Ada apa? Kenapa manggil-manggil?” tanya Arjuna dengan nada dingin.
Ia sudah tak asing lagi dengan anak tetangganya yang cerewet itu.
Arjuna selalu menganggap Lili adalah anak kecil, karena ia juga tahu masa kecilnya Lili.
Mereka sudah bertetangga sejak lama, dulu Arjuna tinggal bersama orang tuanya di rumah itu, namun sekarang kedua orang tuanya sudah tiada.
“Satu pertanyaan buat Om Arjun. Kenapa Om gak nikah? Padahal kan usia Om sudah matang, bahkan hampir busuk,” tanya Lili dengan lantang.
“Kalau saya jawab karena gak mau, gimana?” Arjuna membalas dengan santai.
“Emangnya Om gak mau main gitu-gituan sama istri, Om?” tanya Lili lagi.
“Bisa main sendiri,” jawab Arjuna yang membuat Lili seketika membulatkan kedua matanya.
“What!!! Jangan-jangan Om gak normal, atau Om sering mainin sabun,” celetuk gadis itu tanpa di filter.
“Terserah saya dong, kenapa kamu nanya kayak gitu? Kamu mau saya mainin?” Arjuna menatap ke arah Lili dengan sorot mata intens.
“Noooo!!! Bapak, tolong!!! Aku mau di anu Om Arjun!” teriak Lili dengan suara kencang.
“Astaghfirullah … bocah ini, bukannya berangkat kuliah, malah nongkrong di mari. Berangkat gak lo! Atau Bapak copot ban motor kamu, Lili!” teriak seorang pria paruh baya yang muncul dari arah pintu rumahnya.
“Ampun, Pak. Daripada bapak copotin ban motor aku, mending Bapak ngitung bulu ayam aja biar ada kerjaan.”
Setelah mengatakan itu, Lili langsung tancap gas dan membawa motornya dengan cepat.
“Dasar anak monyet! Eh, ngomong-ngomong, kalau anaknya monyet, berarti bapaknya juga ….”
“Monyet!” jawab Arjuna sambil terkekeh.
“s****n lo, Jun, ikut-ikutan aja,” gertak pak Hidayat.
“Ayo ngopi, Pak!” ajak Arjuna.
“Bisa ae lo meluluhkan hati gue. Ayo, gue bawa dari rumah ya, gelasnya. Biar lo gak banyak cucian, lo kan sama kayak gue, kagak ada istri. Cuma bedanya gue duda ditinggal mati, nah lo pe'rjаkа ditinggal kawin,” seloroh pak Hidayat yang membuat Arjuna hanya membalas dengan kekehan.
***
Setelah tiba di kampus, Lili langsung masuk ke dalam kelas, karena kedua sahabatnya sudah ada di sana.
“Li, tugas lo udah selesai belum?” tanya Vini, seorang gadis berambut sebahu yang hobi nyontek.
“Belum, santai aja, masih ada waktu. Kan dikumpulkannya Minggu depan,” jawab Lili seraya membanting tasnya ke atas meja, kebiasaan gadis itu ketika ia masuk ke dalam kelas.
“Btw, lo mau ambil tema apa, Li?” tanya Jira, teman dekat Lili yang hobi minum susu formula. Bahkan, gadis berkulit putih dan bermata sipit itu sering membawa botol susu ke kampusnya.
“Gue mau ambil tema pe'rjаkа Tua, kebetulan ada tetangga gue yg udah mau tiga puluh lima tahun tapi belum nikah-nikah,” jawab Lili tanpa ragu.
“Buset, tar lo observasinya gimana, Li?” Vini menatap sahabatnya yang agak aneh itu dengan dahi mengerut.
“Gampang, biar gue observasi langsung, gue harus cari tahu kenapa dia sampai tidak mau menikah, apakah dia memiliki kelainan psikologi atau kelainan kelllаmin.” Lili tertawa di akhir kalimatnya.
“Lo observasi kelaminnya gitu?” celetuk Jira dengan wajah polosnya.
“Iya, nanti gue pegang burungnya, masih bisa berdiri gak,” jawab Lili yang memang suka ceplas-ceplos dalam berbicara.
“Koplak, kalau berdiri nanti lo apain?” Vini menoyor pelan kepala sahabatnya itu.
“Gue masukin ke dalam botol.”
“STRES!!!” timpal Vini dan Jira serentak.
“Berisik lo berdua, eh btw kok di kursi gue ada coklat? Dari siapa nih?” Lili mengambil sebuah coklat yang tergeletak di atas kursinya.
“Lo baca aja sendiri, ada tulisannya tuh,” jawab Jira sambil menunjuk ke arah coklat tersebut.
“Feeling gue gak enak nih.” Lili mulai membuka kertas ucapan yang menempel pada belakang coklat yang dipegangnya.
“Good morning my Lili, balikan yuk!” Lili membaca tulisan pada kertas itu.
“Anjay, pagi-pagi diajak balikan,” celetuk Vini yang mendengar ucapan Lili tadi.
“Dari Nico ya?” tanya Jira penasaran.
Lili terdiam sejenak, ia dan Nico baru putus tiga hari yang lalu.
“Dari siapa lagi, si Nico masih bucin sama lo, Li,” timpal Vini.
“Ya udah sih, balikan aja. Gue liat-liat kayaknya lo juga masih sayang sama dia, Li.” Jira memberi saran, karena ia menjadi saksi hujan air mata dari sahabatnya setelah putus.
“Btw, kemarin lo sama si Nico putus karena apa sih?” tanya Jira dengan penasaran. Karena Lili belum sempat menceritakan itu padanya.
“Gara-gara si Nico ngajak ngewong,” jawab Lili yang membuat kedua sahabatnya langsung terlihat syok.
“Anjir, serius?” Vini bertanya dengan kedua mata yang terlihat membulat.
“Husssstttt … jangan kencang-kencang ngomongnya.” Lili menempelkan jari telunjuk pada b******a, agar kedua sahabatnya itu memelankan nada bicara mereka, karena saat ini mereka sedang berada di depan kelas.
“Terus, kenapa lo gak mau?” celetuk Jira.
“Mata lo!” gertak Lili yang membuat Vini seketika langsung memecahkan tawanya.
Setelah itu, tak lama kemudian datang seorang dosen yang akan memulai materi.
***
Hari ini, Lili mengikuti pelajaran dengan mata yang terasa berat, karena semalam ia begadang.
Bukan karena belajar, akan tetapi karena ia maraton nonton drakor.
“Li, kita duluan ya!” teriak Vini dan Jira, kedua gadis itu sudah naik ke atas motor dan berboncengan.
Vini yang membawa motor matic itu segera menancap gas dan keluar dari kampus.
“Asem banget lo pada ninggalin gue.” Lili menggerutu.
Suasana di kampus mulai sepi, tapi sedari tadi motornya tidak mau menyala.
Lili sudah beberapa kali menstarter motornya, akan tetapi roda dua itu masih tak mau menyala.
Vini dan Jira tidak tahu kalau motor Lili rusak, oleh karenanya kedua gadis itu langsung pulang.
“Njir, ini kenapa lagi motor gak bisa nyala? Masa iya rusak lagi, perasaan baru kemarin keluar dari rumah sakit.” Lili menggaruk kepalanya yang tak gatal sampai membuat rambut lurusnya itu terlihat berantakan.
“Li, kenapa?” tanya seseorang yang membuat Lili terdiam sejenak, ia merasa sudah tak asing lagi dengan suara itu.
“Motor kamu mogok ya? Aku bantu kamu,” ucap seorang pemuda yang berdiri tepat di belakang Lili.
Dibonceng
Gadis itu membalikkan badannya dengan perlahan.
“Ni-nico, kamu belum pulang?” Entah kenapa, Lili merasa takut pada pemuda bertubuh tinggi dan berkulit putih itu.
Padahal, sebelum putus, ia dan Nico sudah berpacaran selama lima bulan.
“Belum, kebetulan aku tadi baru keluar dari kelas. Li, aku kangen banget sama kamu.” Nico melangkah maju agar lebih dekat dengan Lili.
“Nico, jangan macam-macam ya, aku belum siap buat ….” Lili tak melanjutkan ucapannya, ia malah mengarahkan sorot matanya pada bagian bawah Nico.
Lili merasa takut pada pemuda itu, karena ia pernah melihat Nico sedang mabuk dan mengajaknya untuk melakukan hubungan s*x.
Oleh karena itu juga Lili langsung memutuskan Nico.
“Li, kamu kenapa takut gitu? Aku gak ngapa-ngapain kamu kok, aku cuma mau peluk kamu.” Nico semakin mendekat.
Lili mundur dengan perlahan, setelah itu ia langsung lari dengan cepat keluar dari kampus.
Gadis itu meninggalkan motor beserta kuncinya, ia benar-benar merasa takut kepada Nico, karena Lili melihat sorot mata yang berbeda dari pemuda itu, ia takut Nico sedang mabuk.
“Gue harus kabur, gue takut banget, kayaknya si Nico mabuk lagi. Kenapa kamu jadi kayak gini, Nico? Padahal dulu kamu adalah cowok baik.” Lili berbicara sambil lari, ia takut Nico mengejarnya.
Lili berlari kencang, tapi ia tak memperhatikan sekitar, gadis itu melewati perempatan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Astaghfirullah …” teriak seseorang yang langsung mengerem motornya secara mendadak.
Hampir saja ia menabrak Lili yang tiba-tiba muncul dari arah kiri.
“Aaaaaa … Om Arjun!” teriak Lili setelah menyadari kalau orang yang hampir menabraknya itu adalah Arjuna.
“Kok kamu tahu ini saya?” tanya Arjuna sambil membuka helmnya.
“Siapa lagi yang pake motor butut kayak gini?” Lili berkacak pinggang di hadapan pria itu.
“Kamu ngapain lari di tengah jalan? Mau bunuh diri?” Arjuna meminggirkan motornya agar tidak menghalangi pengendara lain.
“Motor aku mogok di kampus, aku ikut pulang Om, Om mau pulang kan?” Lili langsung naik ke atas motor Arjuna tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu dari pria itu.
“Ck … nambah beban aja,” gerutu Arjuna tapi dengan nada pelan.
“Kalau nolongin orang harus ikhlas, Om,” protes Lili yang kini telah duduk di belakang Arjuna.
“Iya-iya, ada-ada aja, lain kali kalau lewat jalan itu hati-hati. Untung aja tadi saya masih bisa rem,” ucap Arjuna yang mulai kembali menyalakan motornya.
“Iya, Om, lagian tadi aku buru-buru, aku takut dikejar orang, Om,” jelas Lili.
“Kenapa dikejar? Kamu punya hutang ya?” balas Arjuna, pria itu mulai menjalankan motornya.
“Enak aja! Aku gak pernah ngutang ya, Om. Paling aku minta. Btw, Om dari mana? Kok bau bunga kuburan? Apa jangan-jangan Om mau mati?” celetuk Lili sambil mengendus aroma dari t***h Arjuna.
“m***t kamu ya! Saya abis dari kantor,” jawab Arjuna sedikit menoleh ke arah Lili yang duduk di belakangnya.
“Kenapa Om suka naik motor butut ini terus? Padahal kan Om punya mobil,” tanya Lili lagi yang memang cerewet.
“Biar kamu gak numpang, kalau saya naik mobil, nanti kamu numpang terus,” jawab Arjuna asal.
“Jahat banget jadi tetangga. Padahal kan lumayan kalau aku numpang sama Om terus, kan tempat kerja Om sama kampus aku searah.”
“Gak mau saya diikutin kamu terus, lebih baik kamu nyari tumpangan yang lain,” jawab Arjuna.
“Sebenarnya tadi itu aku mau dianterin sama mantanku, Om. Tapi aku gak mau.” Lili sedikit bercerita.
“Kenapa gak mau? Kan lumayan dapat tumpangan gratis.” Arjuna membenarkan kaca spion motornya, agar ia bisa melihat wajah Lili ketika berbicara.
“Karena aku takut diapa-apain Om sama dia,” jawab Lili jujur.
“Terus, kalau sama saya kamu gak takut diapa-apain gitu?” tanya Arjuna lagi.
“Nggak, karena aku gak yakin kalau Om itu normal,” jawab Lili yang seketika membuat Arjuna langsung rem mendadak.
Karena Arjuna mengerem mendadak, membuat Lili yang duduk di belakangnya ikut terhuyung ke depan, d*****a menempel tepat pada punggung tegap Arjuna.
“Om, apa-apaan sih? Aku hampir aja jatuh!” oceh Lili dengan suara kencang agar terdengar oleh telinga Arjuna.
Karena Arjuna ngerem mendadak, membuat Lili yang duduk di belakangnya seketika
“Saya kaget denger omongan kamu tadi,” jawab Arjuna seraya menoleh ke arah Lili yang masih duduk di belakangnya.
“Kaget sih kaget, tapi gak rem mendadak juga kali. Sampai gunung kembarku hampir erupsi, untung aja nempelnya di punggung Om,” oceh Lili kembali sambil memukul punggung Arjuna.
“Saya yang rugi ketempelan gunung kembar kamu yang imut itu,” balas Arjuna.
“Iya, Om kan gak normal.” Lili terdengar kesal.
“Enak aja!” Arjuna kembali menyalakan motornya yang tadi sempat berhenti di pinggir jalan.
“Udah, buruan jalan lagi Om, aku ngantuk. Pengen cepat sampai rumah dan tidur.” Lili menepuk punggung Arjuna agar pria itu kembali menjalankan motornya.
“Udah numpang, ngatur lagi,” protes Arjuna, akan tetapi pria itu segera menjalankan motornya.
Jarak dari kampus ke rumah Lili cukup jauh, terlebih lagi saat ini di jalan utama menuju rumahnya terlihat macet karena ada perbaikan jalan.
Lili mulai menguap, matanya terasa berat, kantuk kembali menyerang kedua matanya, padahal ia masih berada di atas motor.
Lili memang gampang tidur, apalagi di siang hari, karena malamnya gadis itu habiskan untuk nonton drakor.
Arjuna fokus mengendarai motornya, karena jalanan cukup ramai, jadi ia harus fokus.
Cukup lama motor itu melaju, namun ia tak mendengar suara Lili lagi.
Arjuna merasa seperti ada kedua tangan yang sedang melingkar pada perutnya.
Pria itu mengarahkan sorot mata pada bagian perutnya, dan benar saja saat ini kedua tangan Lili sedang memeluknya.
Entah apa yang dirasakan gadis itu sampai tiba-tiba saja memeluk Arjuna.
Mungkin, Lili membayangkan kalau saat ini ia sedang berboncengan dengan Nico.
“Ngapain ni anak peluk-peluk?” gumam Arjuna, pria itu membenarkan kaca spion agar ia bisa melihat wajah Lili yang berada di belakangnya.
Benar saja feeling pria itu, saat ini Lili sedang memejamkan kedua matanya.
Bahkan, gadis itu juga menyandarkan kepala pada punggung tegap Arjuna.
“Ya ampun, malah tidur. Dasar bocah, bikin repot aja,” guman Arjuna kembali sambil memelankan laju roda duanya, karena ia takut Lili terjatuh.
Arjuna menyentuh punggung tangan Lili dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang stang motor. Pria itu mengusap punggung tangan Lili dan berusaha membangunkan.
“Li, Lili … bangun,” ucap Arjuna sambil mengusap punggung tangan Lili.
Namun, bukannya bangun, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
Penasaran Dalamnya
“Astaghfirullah … Li, bangun!! Jangan tidur, nanti kamu jatuh,” ucap Arjuna lagi yang masih berusaha membangunkan Lili.
“Hmmmm ….” Namun, gadis itu hanya bergumam.
“Ck … gak beres nih anak.” Arjuna tak menghentikan motornya, pria itu memegang kedua tangan Lili yang melingkar pada perutnya, dengan tangan kiri.
Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegang stang motor.
Arjuna terlihat seperti seorang ayah yang sedang menjaga putrinya agar tidak terjatuh.
Ditambah lagi, ukuran tangan Lili yang imut sangat berbeda jauh dengan tangan Arjuna yang besar dan kekar.
Arjuna terus membawa motornya sampai ke jalan menuju rumah mereka.
Pria itu menghentikan motornya di halaman rumah Lili yang sangat dekat dengan halaman rumahnya.
“Astaghfirullah … anak gue kenapa? Si Lili kenapa, Jun?” teriak seorang pria paruh baya yang langsung bangkit dari duduknya.
Pak Hidayat yang sedang duduk santai di teras rumahnya sambil menikmati segelas kopi, seketika terjingkat saat melihat Arjuna datang sambil membonceng Lili yang sedang memejamkan kedua matanya.
Pria paruh baya itu langsung melempar peci merah dan sarung yang dikenakannya.
Ia berlari ke arah motor Arjuna yang sedang terparkir di halaman rumahnya.
“Lili, lo kenape Li? Masa mau mendahului Bapak sih Li? Lo gak kasihan apa sama Bapak? Belum juga Bapak kawin lagi, masa lo udah ninggalin Bapak sih, Li?” teriak pak Hidayat yang histeris sendiri.
Arjuna yang mendengar itu, hanya menghela nafas dan geleng-geleng kepala. Anak dan bapak memang sama-sama dramatis.
Pak Hidayat berdiri tepat di samping Lili, pria paruh baya itu memperhatikan wajah putrinya yang menempel pada punggung Arjuna.
“Anak monyet, kirain mati, ternyata tidur, sampe ngiler di jaket lo Jun!” teriak pak Dayat sambil mencubit hidung Lili yang membuat gadis itu seketika membuka kedua matanya.
“Beneran ngiler, Pak? Hadehhh … bahaya ini si Lili.” Arjuna langsung menoleh ke arah Lili yang mengucek mata sambil prengat-prengut.
Sepertinya gadis itu sedang berusaha mengumpulkan kesadaran.
“Apaan sih? Pada berisik banget, orang lagi mimpi indah juga.” Lili malah kembali menempelkan kepalanya pada punggung Arjuna.
“Lili, turun, kita udah nyampe,” ucap Arjuna.
“Astoge … ternyata sedari tadi aku tidur di sini. Ikh, Om pasti kesenengan aku peluk. Bapak juga kenapa diam aja sih lihat anaknya diperlakukan seperti ini? Semua laki-laki sama aja!” oceh Lili sambil melepaskan pelukannya.
Gadis itu segera turun dari motor dan berlari masuk ke dalam rumah.
Seketika Arjuna dan pak Dayat saling melempar pandangan. Kedua pria itu geleng-geleng kepala ketika melihat tingkah Lili yang tiba-tiba berubah.
“Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak.” Arjuna menyalakan motornya kembali, pria itu menjalankan motor sampai ke rumahnya.
Sementara Lili masuk ke dalam kamar, gadis itu langsung melepaskan tasnya dan menjatuhkan t***h ke atas kasur. Ia akan melanjutkan tidurnya.
Ia yakin setelah ini ayahnya akan menggedor pintu kamarnya untuk menanyakan motor.
Lili belum kepikiran soal motornya yang ia tinggalkan di kampus.
Di luar rumah, pak Dayat masih berdiri di halaman rumahnya, pria paruh baya itu sedang bertanya-tanya sendiri, kemana motor Lili?
Kenapa gadis itu pulang bersama Arjuna?
Pak Dayat ingin bertanya kepada Arjuna, namun pria itu kini sudah masuk ke dalam rumahnya.
“Kemana motor si Lili? Jangan-jangan ada yang maling,” gumam pak Dayat sendiri.
Namun, tak lama kemudian datang seseorang yang membawa sebuah motor matic.
Motor itu sudah tak asing lagi di mata pak Dayat.
“Eh, ini motor anak gue, lo malingnya ya!” tuding pak Dayat yang langsung memasang kuda-kuda, bersiap untuk memberikan serangan kepada seorang pemuda yang kini telah menghentikan motor tersebut di hadapan pak Dayat.
“Lo maling kan?!” tuding pak Dayat lagi yang siap melemparkan bogeman.
“Tenang dulu, Pak. Saya bukan maling.” Pemuda itu membuka helmnya.
“Siapa lo? Kenapa lo malah bawa motor anak gue?” sergah pak Dayat sambil menatap intens ke arah pemuda berkulit putih itu.
“Kenalin, Pak. Saya Nico, pacarnya Lili. Tadi motor Lili mogok di kampus, jadi saya benerin terus saya antar ke sini,” ucap Nico sambil turun dari atas motor Lili.
“Hah, pacar? Jadi si Lili udah punya pacar? Laku juga anak gue. Mana ganteng lagi pacarnya.” Seketika pak Dayat tersenyum dengan mata yang masih menatap ke arah wajah Nico.
Pria paruh baya itu memperhatikan penampilan Nico dari atas sampai bawah.
“Lili-nya ada, Om?” tanya Nico.
“Ada … si Lili ada di dalam, mau masuk dulu?” tanya pak Dayat yang mendadak berubah ramah.
“Boleh, Om. Saya mau ketemu Lili,” jawab Nico dengan penuh semangat, karena ia ingin bertemu dengan Lili.
“Ayo masuk dulu, Om panggilkan si Lili,” ajak pak Dayat seraya berjalan ke arah rumahnya.
Nico yang mendengar itu, langsung mengikuti langkah pak Dayat tanpa menunggu lama lagi.
Selama mereka berpacaran, Lili tidak pernah mengajak Nico ke rumahnya.
Jadi, ini untuk yang pertama kalinya Nico datang ke rumah Lili.
“Ayo masuk, tapi ngomong-ngomong namamu siapa tadi? Om lupa, maklum kebanyakan mikir. Jangan-jangan namanya Sapri lagi.” Pak Dayat menghentikan langkahnya setelah tiba di dalam rumah.
“Nama saya Nico, Om,” jawab Nico dengan ramah.
“Nico, duduk dulu, biar Om panggil si Lili dulu. Kayaknya tuh anak tidur lagi deh.” Pak Dayat berjalan ke arah kamar putrinya.
“Iya, Om, terima kasih.” Nico duduk di ruang tamu yang berada tepat di depan kamar Lili.
Tok!
Tok!
Tok!
“Li … Lili bangun, ada pacar kamu nih!” teriak pak Dayat setelah mengetuk pintu kamar Lili.
Pria paruh baya itu berdiri sambil berkacak pinggang di depan kamar putrinya.
Namun, sama sekali tak ada jawaban dari dalam yang membuat pak Dayat kembali mengetuk, bahkan kali ini pria paruh baya itu menggedor kamar putrinya.
“Lili bangun!!! Ada Nico pacar kamu nih!” teriak pak Dayat dengan suara kencang agar mampu mengguncang gendang telinga putrinya.
Seketika Lili yang sedang terbang di alam mimpi langsung membuka kedua matanya setelah mendengar teriakan sang ayah.
“Iya, Pak, kenapa teriak-teriak?” Lili mengucek kedua matanya.
“Ada Nico pacar kamu di sini,” teriak pak Dayat lagi yang membuat Lili langsung bangkit dari atas kasur.
Gadis itu terjingkat, ia membuka kedua matanya lebar-lebar.
“Hah, Nico? Beneran ada si Nico di sini? Ngapain dia?” Lili turun dari ranjang dengan cepat, gadis itu mendekat ke arah pintu.
Ia mengintip dari lobang kunci kamarnya dan benar saja ada seorang pemuda yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
Ia benar-benar merasa terkejut, jujur saja Lili masih merasa takut kepada pemuda itu.
“Gak, gue gak mau ketemu si Nico, gue harus kabur. Lagian, Bapak kok ada-ada aja pake masukin tuh anak segala ke dalam rumah.” Lili menjadi panik sendiri.
Gadis itu setengah berlari ke arah jendela kamarnya.
Lili membuka jendela kamar dengan hati-hati, setelah itu ia naik ke atas jendela dan melompat keluar.
“Kabuuurrr!!!” Lili berlari ke arah rumah sebelah, ia akan mencari tempat untuk bersembunyi.
Kebetulan rumah di sampingnya itu adalah rumah Arjuna.
Lili berlari ke arah rumah tetangganya itu, ia tak peduli apapun, yang jelas saat ini ia harus melarikan diri dari Nico.
Gadis itu melihat jendela rumah Arjuna yang terbuka, dan tanpa berpikir panjang lagi, Lili langsung naik ke atas jendela dan masuk ke dalam rumah Arjuna.
Namun, ternyata ia malah masuk tepat di kamar pria itu.
“Eh buset, gue lupa ternyata ini kamarnya Om Arjun,” ucap Lili dengan suara pelan.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang terlihat sepi, tidak ada satu orang pun di sana.
Lili juga tidak melihat keberadaan Arjuna, entah pergi kemana pria itu.
Tiba-tiba saja, jiwa kepo Lili meronta, ia ingin melihat apa saja yang ada di dalam kamar tetangganya.
Karena selama ini, Arjuna adalah orang yang cukup misterius dan tertutup.
Mulai dari pekerjaannya yang tidak Lili ketahui detail, serta dari kisah hidupnya terutama dari percintaan.
Lili merasa penasaran, apakah pria itu pernah merasakan jatuh cinta?
Atau mungkin Arjuna tidak normal sejak kecil.
Di kamar itu juga tidak ada satu foto pun yang terpajang, hanya ada beberapa lukisan abstrak dan tumpukkan buku-buku.
Ada juga alat musik seperti gitar dan biola, bahkan Lili tidak tahu kalau pria itu bisa bermain gitar apalagi biola.
Lili mendekat ke arah ranjang, ia melihat sebuah foto yang tergeletak di samping bantal.
Namun, sayangnya foto itu diletakkan terbalik, jadi Lili tak dapat melihat gambar pada foto tersebut.
Karena jiwa kepo Lili sudah akut, jadi gadis itu berniat untuk mengambil foto tersebut dan melihatnya.
Ia benar-benar merasa penasaran dengan gambar pada foto yang sepertinya sudah lama itu, terlihat dari bagian belakangnya yang mulai menguning, tidak putih bersih seperti foto yang masih baru.
Lili menggerakkan tangannya, ia akan mengambil foto tersebut.
Namun, tiba-tiba saja ….
“Ngapain kamu di sini?” Suara itu benar-benar mengejutkannya.
Lili menarik kembali tangannya yang sudah hampir menyentuh foto itu.
Ia segera membalikkan badan, namun Lili malah semakin dibuat terkejut saat ia melihat Arjuna kini sedang berdiri di hadapannya sambil bertelnjng d**a.
Sepertinya pria itu baru selesai mandi, ia hanya memakai sehelai handuk yang melingkar pada pinggangnya.
Lili terdiam membeku, ia memperhatikan Arjuna dari atas sampai bawah dan arah sorot mata gadis itu berhenti tepat di bawah perut Arjuna.
Entah apa yang sedang ia lihat.
Lili terkejut ketika melihat t***h kekar Arjuna, selama ini ia tidak pernah melihat pria itu bertelnjng.
Ternyata t***h Arjuna sangat gagah dan atletis.
Pria itu memiliki otot lengan dan perut yang kekar, tak hanya itu, Arjuna juga memiliki bulu-bulu halus yang tumbuh di tengah-tengah d**a dan perutnya.
Ternyata, pria yang selama ini Lili katakan tidak normal itu memiliki t***h yang sangat atletis.
“Dari badannya oke, tapi entah kalau dari ….” Lili masih mengarahkan pandangannya pada area perut Arjuna.
Entah apa yang sedang berada di dalam pikiran gadis itu sampai ia berbicara seperti tadi.
“Apa? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu mau melihat pedang saya, hmmmm?” Tiba-tiba saja Arjuna berjalan mendekat ke arah Lili yang membuat gadis itu terkejut.
Terlebih lagi, ketika ia melihat sorot mata Arjuna yang berbeda.
Pria itu menatapnya intens dengan b***r yang tersenyum devil.
Sungguh ini adalah ekspresi yang sebelumnya tidak pernah Lili lihat dari pria itu.
“O-om mau ngapain?” Seketika Lili memundurkan langkahnya.
Namun, langkah kakinya malah mentok karena ia berada tepat di samping ranjang.
“Kamu kan penasaran dan mau lihat, sini biar saya kasih lihat secara langsung.” Arjuna semakin mendekat ke arah Lili.
Ingin Menjadi Istrimu
“Om jangan macam-macam ya, atau aku teriak sekarang,” ancam Lili ketika melihat Arjuna semakin mendekat ke arahnya.
Gadis itu malah langsung terlihat ketakutan, bahkan kulit wajahnya mendadak jadi pucat.
“Teriak aja, kan yang duluan masuk ke dalam kamarku itu kamu, jadi biar kamu yang dituduh ngintip saya,” balas Arjuna dengan santai.
“Enak aja, aku gak nafsu ya sama Om,” balas Lili yang tak mau kalah.
“Emang kamu pikir saya nafsu sama body kerempeng kayak kamu itu,” balas Arkuna lagi.
“Idih, belum juga lihat dalamnya, udah ngomong kayak gitu.” Lili terdengar angkuh.
“Kalau gitu, saya mau lihat dalamnya bagaimana?” Arjuna mengangkat alisnya.
“Oke, tapi aku juga mau lihat dalamnya punya Om. Awas aja kalau gak panjang dan besar.” Lili menahan tawa.
“Stres! Udah, keluar kamu. Ngapain di kamar saya?” usir Arjuna.
“Ini kita gak jadi saling lihat-lihatan, Om?” Wajah tegang dan ketakutan Lili seketika berubah.
“Kamu ini gak ada takut-takutnya ya sama saya. Keluar sekarang dari kamar saya, saya gak mau ya dimarahi Bapak kamu gara-gara ngumpetin anaknya di sini,” usir Juna sekali lagi.
“Ya udah aku keluar, tapi aku izin sembunyi di rumah Om dulu ya. Please … aku takut Om, di rumahku ada mantanku. Aku gak mau ketemu dia.” Lili terdengar memohon.
“Bukan urusan saya, cepat keluar! Saya mau ganti baju.” Juna berjalan ke arah lemari pakaian.
“Mau aku pakaikan gak, Om?” tawar Lili yang semakin ngelantur.
“Anak kecil ini, ganggu saja. Cepat keluar!” usir Juna dengan nada penekanan agar Lili segera keluar dari kamarnya.
“Ck … iya-iya, dasar Om-om ketus.” Lili berjalan ke arah pintu kamar.
“Eh, ngapain ke situ? Kamu kan tadi masuk lewat jendela, sekarang keluar lewat jendela lagi!” titah Juna yang seketika menghentikan gerakkan tangan Lili, padahal sebentar lagi tangannya menyentuh kenop pintu.
“Pelit banget sih, aku numpang ngumpet.” Lili tak menghiraukan ucapan Juna, ia membuka pintu kamar dan keluar.
Juna hanya geleng-geleng kepala, ia sudah biasa dengan tingkah Lili yang seperti itu.
Lili berjalan ke arah sofa yang terdapat di ruang televisi, kedua matanya masih terasa ngantuk, disaat ia sedang nyenyak tidur, ada saja gangguannya.
“Hoaaaammm … enak juga rumah Om Juna. Walaupun di sini gak ada perempuan, tapi rumahnya tetap bersih.” Lili menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
“Kenapa sih dia gak nikah aja? Kan kalau Om Juna nikah, lumayan gue punya tetangga cewek. Ini semuanya cowok, Bapak gue duda, Om Juna pe'rjаkа tua, sebelah rumah gue lagi aki-aki, gak ada yang bener emang.” Lili mengoceh sendiri.
Namun, ia merasa seperti ada yang mengganjal di dekat kepalanya.
“Apaan nih? Perasaan tadi gak ada apa-apa di sofa ini, apa gue gak liat ya?” Lili sedikit mengangkat kepala, ia mengambil kain yang sempat ia tindih itu.
“Anjir, s3mp4k, bisa-bisanya ada bendera Spiderman di sini. Om Juna abis ngapain coba?” Lili memegang kain berwarna hitam itu lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
Sebelumnya ia tidak melihat benda itu di atas sofa, mungkin karena sofa berwarna hitam dan sama dengan benda tersebut, Lili jadi tidak melihatnya.
“Jangan-jangan, Om Juna abis ….” Seketika Lili menggerakkan kedua bahunya saat ia membayangkan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Hih, ngeri. Jangan-jangan dia gak nikah-nikah karena dia lebih suka main sama sofa, daripada sama manusia,” gumam Lili lagi yang kembali merebahkan tubuhnya.
Entah kenapa ia merasa nyaman di rumah itu, rumah Juna terasa adem dan menenangkan yang membuat dirinya malas untuk pulang, apalagi mungkin Nico masih ada di rumahnya.
“Tapi kalau dilihat-lihat, Om Juna ganteng juga. Badannya sixpack, apalagi tadi gue liat ada bulu-bulu halus yang tumbuh di d**a dan perutnya. Uh, gue jadi penasaran rasanya.” Lili m*******t jari telunjuknya sendiri.
Ia jadi teringat film biru yang pernah ia tonton.
Akan tetapi, entah kenapa ia tidak tertarik untuk melakukan itu bersama dengan Nico.
Pemuda itu memang tampan, akan tetapi dari segi body, Lili lebih menyukai bentuk t***h Arjuna yang kekar dan gagah.
“Om, s3ntuh aku dong.” Lili berbicara dengan nada manja. Gadis itu berbicara sendiri sambil duduk dengan posisi d**a yang sengaja ia busungkan ke depan.
“Kenapa kamu?” Suara itu sangat mengejutkan Lili.
Ia langsung menoleh ke arah Juna yang baru keluar dari kamarnya.
“Eh, Om Juna.” Lili membenarkan rambutnya kembali dengan b***r yang senyum-senyum sendiri.
“Aneh,” ucap Juna singkat. Pria itu berjalan ke arah dapur.
“Om, mau kemana?” Lili mengejar langkah Juna, gadis itu mengikutinya ke arah dapur.
“Mau bikin kopi, kamu kenapa sih ngikutin saya terus? Pulang sana, nanti Bapak kamu nyariin,” usir Juna.
“Aku gak mau pulang, ada mantanku di rumah,” jawab Lili yang mensejajarkan langkah dengan Juna.
“Terus, kamu mau pindah ke sini?” Juna menghentikan langkah, pria itu menoleh ke arah Lili yang malah sengar-sengir sendiri.
“Gimana kalau hari ini aku cosplay jadi istrinya, Om. Kebetulan aku lagi ada tugas kuliah. Jadi aku ambil tema, kenapa seseorang memutuskan untuk tidak mau menikah. Terus, aku kan perlu observasi. Dan sekarang aku mau observasi langsung sama Om. Karena Om gak nikah-nikah diusia Om yang sudah matang ini, jadi aku mau menjadikan Om sebagai bahan penelitian aku. Aku mau cek apakah Om normal atau tidak, selain itu aku juga mau memastikan Om benar-benar tidak tertarik dengan pernikahan atau itu hanya sekedar alibi saja,” tutur Lili panjang lebar.
“Enak saja kamu mau menjadikan saya bahan penelitian.” Juna melanjutkan langkahnya ke arah dapur.
Lili kembali mengikuti langkah pria itu.
“Mau Om ya, please.” Lili terdengar memohon.
“Terus, kamu mau mulai dari mana dulu?” Juna berbicara tanpa menghentikan langkahnya, karena jarak dari ruang televisi menuju dapur itu cukup jauh.
“Aku mau memastikan dulu kalau Om itu ada ketertarikan untuk menikah atau tidak. Jadi, aku mau cosplay jadi istri, Om. Aku mau melakukan apa yang biasanya seorang istri lakukan terhadap suaminya. Seperti membuatkan kopi, memasak, menemani berbicara ….”
“Termasuk menemani tidur?” Tiba-tiba saja Arjuna membalikkan badan yang membuat Lili seketika menghentikan langkah, ia yang berjalan di belakang Arjuna, hampir saja menabrak t***h pria itu saat Juna mendadak menghentikan langkah dan menghadap ke arahnya.
“Kalau Om mau gak papa, sekalian aku mau cek Om normal atau nggak,” jawab Lili tanpa berpikir panjang.
“Kamu ini aneh-aneh saja, kalau terjadi sesuatu, kamu yang rugi, bukan saya.” Juna mengusap wajahnya sendiri, ia benar-benar tak habis pikir dengan anak tetangganya itu.
Aksi Nico
Sedari kecil, Lili memang nakal dan petakilan, dulu gadis itu sering menangis jika tidak ia ajari naik sepeda.
Arjuna sudah menganggap Lili seperti adiknya sendiri, karena usia Lili hampir sama dengan adiknya. Namun, sayangnya Dewa lebih memilih tinggal di kos dan jarang pulang.
“Emang Om bisa ngapain? Om kan gak normal,” jawab Lili dengan entengnya.
“Ck … kamu cuma menafsirkan satu sisi saja.” Juna berjalan ke arah meja yang terdapat kopi dan gelas.
“Om diam aja, biar aku yang buatkan kopi untuk Om!” Lili mencegah Juna. Ia memegang kedua tangan pria itu dan meminta Juna untuk diam.
“Apa sih, Li? Udah ya mainnya. Kamu udah gede.” Juna membuang nafas kasar.
Waktu kecil, Lili sering merengek memintanya untuk menemani main masak-masakan. Karena Dewa sebagai sahabatnya tidak mau menemani Lili main masak-masakan.
Dewa sebagai anak laki-laki, lebih suka bermain bola dan permainan anak laki-laki lainnya.
Sedangkan Lili tidak memiliki teman selain Dewa, jadi yang menjadi sasarannya adalah Juna, ia akan menangis kencang jika kakak dari sahabatnya itu tidak menuruti kemauannya.
Juna yang selalu bersikap baik kepada anak-anak, meskipun saat itu ia belum sedewasa ini, ia sering menuruti kemauan Lili menemani gadis itu bermain.
“Aku gak lagi main rumah-rumahan, Om. Aku lagi observasi dan penelitian. Sekarang, anggap aja aku ini adalah istri Om. Nanti ceritakan apa yang Om rasakan dan Om bayangkan mempunyai istri,” jelas Lili.
“Mempunyai istri seperti kamu? Membayangkannya saja saya tak sudi,” balas Arjuna dengan santai sambil bersedekap d**a.
“Om Arjun ikh!!! Huaaaaa … kenapa Om Arjun jahat banget gak mau jadi bahan penelitian aku!!” Lili berteriak seperti sedang menangis.
“Berisik! Ya udah, cepat buatkan kopi.” Arjuna mengalah, ia paling tidak kuat jika mendengar teriakan gadis itu.
“Nah, gitu dong. Sebentar suamiku.” Lili mulai mengambil gelas.
“Geli banget saya dengarnya,” ucap Juna yang membuat Lili seketika tertawa.
“Gelisah, Om, geli-geli basah.” Lili meliuk-liukkan tubuhnya sambil menaburkan kopi ke dalam gelas.
“Gak usah kayak ulet gitu, Li,” protes Arjuna.
“Ck … kaku banget sih Om. Bayangkan aku adalah istrimu.” Lili mulai mengaduk kopi yang telah ia beri air.
“Udah bikin kopinya? Sini!” Juna mendekat ke arah Lili, pria itu berdiri di belakang Lili yang masih sibuk mengaduk kopi.
“Udah kebayang belum Om kalau aku jadi istri Om?” Lili menoleh ke arah Juna yang berdiri di belakangnya.
“Nggak,” jawab Juna singkat.
“Kok nggak sih, Om? Gimana kalau kita nikah beneran aja. Om kan gak normal, jadi aku gak bakal diapa-apain, aku aman deh,” cerocos Lili yang sibuk sendiri dengan isi pikirannya.
“Terus, tujuan kamu nikah sama saya itu buat apa?” Juna menatap heran ke arah gadis itu.
“Biar aku bisa minta uang ke Om, Om kan banyak uangnya. Jadi, aku bisa beli apa aja yang aku mau dengan uang Om,” jawab Lili dengan jujur.
“Stres kamu ya.” Juna mengambil segelas kopi yang sudah dibuatkan oleh Lili tadi.
Setelah itu, ia kembali berjalan ke arah ruang tengah.
“Om, aku serius. Nikahin aku aja, Om. Kasian Bapak udah tua kalau harus masih biayain aku terus. Aku nikah sama Om, terus aku numpang hidup sama Om.” Isi pikiran Lili semakin tidak bisa dicerna oleh Juna.
“Mending kamu tidur aja, Li. Kayaknya kamu ngantuk, makanya ngelantur gitu.” Juna meletakkan kopinya ke atas meja, setelah itu ia duduk di atas sofa.
“Om, aku serius. Kita nikah aja ya, nanti aku bilang sama Bapak kalau kita mau nikah.” Lili malah semakin merengek, gadis itu seperti anak kecil yang meminta mainan.
“Kamu ini katanya kuliah jurusan psikologi, tapi ternyata kamu sendiri yang psikolognya terganggu.” Juna menatap Lili sambil tertawa kecil.
“Om Juna ikh! Aku kan ambil psikologi buat nyembuhin diri aku sendiri.” Lili tertawa di akhir kalimatnya.
“Udah, kamu pulang sana!” usir Arjuna.
“Gak mau, aku mau jadi istri Om.” Lili malah ikut duduk di samping Juna.
“Aneh-aneh aja kamu, Li. Obat kamu abis ya, makanya kumat.” Juna geleng-geleng kepala.
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan seseorang dari depan.
“Jun, ada si Lili kagak? Kemana anak itu? Diapelin sama pacarnya, malah kabur,” teriak seorang pria paruh baya dari depan pintu.
“Waduh, ada Bapak. Om, bilangin aku gak ada. Aku mau keluar lewat jendela kamar Om.” Lili berlari ke arah kamar Juna.
Gadis itu takut ayahnya ngamuk. Ia akan keluar lewat jendela kamar Juna lagi yang bersebelahan dengan kamarnya.
Namun, sebelum keluar lewat jendela, Lili sempat melihat ke arah nakas, ada tumpukkan foto berukuran 3x4, ia mendekat ke arah nakas.
“Foto apa ya? Perasaan tadi gue gak liat foto ini. Bijr, ini kan Om Juna foto latar biru. Apa jangan-jangan Om Juna mau nikah? Tapi nikah sama siapa?” Lili mengambil satu foto itu, ia memperhatikannya, akan tetapi sepertinya foto itu sudah cukup lama.
“Gue ambil lah.” Lili mengambil satu foto itu, ia memasukkan ke dalam saku celananya.
Gadis itu segera berlari ke arah jendela kamar, Lili langsung keluar lewat jendela kamar Juna.
“Mudah-mudahan si Nico udah pulang.” Lili berjalan mengendap-endap dan langsung masuk ke dalam kamar lewat jendela.
“Kayaknya si Nico udah pulang deh.” Lili membuka pintu kamarnya, namun seketika ia dibuat terkejut saat melihat seseorang yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Ni-nico ….” Lili sampai tergagap ketika melihat Nico berdiri menghadap ke arahnya.
Pemuda itu menatap dalam-dalam wajah Lili dengan b***r yang tersenyum tipis.
“Kamu kemana aja, Li? Aku nungguin kamu dari tadi. Aku kangen banget sama kamu, Li.” Nico berjalan semakin mendekat.
Refleks Lili memundurkan langkahnya, namun sayangnya semakin ia mundur, maka ia semakin masuk ke dalam kamar.
“Nico … kamu jangan macam-macam.” Lili terlihat ketakutan.
“Nggak, Li. Aku cuma mau ….” Nico menggerakkan tangannya, ia memegang pipi Lili yang membuat gadis itu semakin terlihat tegang dan ketakutan.
“Jangan kayak gini, Nico. Pe-pergi …” usir Lili yang terlihat gemetar karena ketakutan.
Entah kenapa, ia benar-benar merasa takut pada pemuda itu.
Namun, bukannya pergi, Nico malah semakin mendekat, pemuda itu menyentuh tengkuk Lili dan menariknya sampai t***h gadis itu terhuyung ke depan.
“Aku kangen kamu, Li.” Nico mendekatkan wajahnya, sorot mata pria itu tertuju pada b***r Lili yang seolah menjadi sasaran dirinya.
“Nico, jangan gila!” Lili mendorong d**a pemuda itu agar menjauh, namun yang terjadi malah ….
Di Dalam Kamar
Lili semakin ketakutan, terlebih lagi ketika ia melihat sorot mata Nico yang seolah mengisyaratkan apa yang ingin pemuda itu lakukan.
“I wana you, Lili.” Nico kembali menyentuh pipi Lili yang membuat perasaan Lili semakin tak karuan.
“Nico, jangan gila ya, kamu bisa dibacok bapakku!” ancam Lili seraya menepis tangan Nico dari pipinya.
“Aku gak takut Li, rasa cintaku ke kamu lebih besar daripada rasa takutku.” Nico mengatakan itu dengan nada penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Lili semakin terasa berdiri.
“Itu bukan cinta namanya, tapi obsesi. Pergi kamu dari sini!” usir Lili yang berusaha bersikap keras agar Nico merasa sedikit takut padanya.
“No! Bapakmu bilang, dia mau mencarimu sampai ketemu, bapakmu tidak akan pulang dulu sebelum menemukan kamu. So have fun, Bee.” Nico tersenyum smirk, pemuda itu menyebutkan panggilan kesayangannya untuk Lili, yaitu Bee.
Nico memegang bahu Lili, pemuda itu mendorong t***h Lili dengan perlahan ke atas kasur.
Lili semakin merasa takut, jujur saja Nico lebih menyeramkan daripada Arjuna yang berusia lebih matang.
Mungkin karena Lili menganggap Arjuna tidak normal, jadi ia tidak merasa takut kepada pria itu.
Sorot kedua mata Nico semakin menatap dalam-dalam pada wajah Lili, bahkan kini yang menjadi fokus dari sorot kedua bola mata berwarna abu-abu itu adalah b***r seksi Lili.
Nico mendekatkan wajahnya dengan b***r yang seolah siap m*****m.
Hal tersebut membuat t***h Lili semakin gemetar karena rasa takut bercampur gelisah.
Ia harus mencari cara agar Nico pergi dari sana.
“Nico, awas ada cicak terbang ke kepala kamu!” teriak Lili yang membuat Nico seketika menghentikan gerakkannya.
“Hah? Cicak? Mana? Aaarrrrggghhh ….” Nico berteriak dan langsung berlari keluar dari kamar Lili. Bahkan, pemuda itu juga sampai berlari keluar dari rumah karena ketakutan.
Lili membuang nafas lega, untung saja ia masih ingat apa yang ditakutkan oleh Nico.
Tak hanya takut, bahkan pemuda itu juga phobia cicak. Maka dari itu, Nico langsung lari ketakutan.
Pemuda itu sampai melupakan niatnya yang ingin berbuat macam-macam kepada Lili.
Otak c4bulnya seketika hilang berganti dengan rasa takut yang luar biasa.
Lili ikut keluar dari rumah, ia menertawakan Nico yang lari terbirit-birit.
Bahkan, pemuda itu sampai meninggalkan rumah Lili sambil berteriak ketakutan.
Teriakan pemuda itu sampai terdengar oleh pak Dayat dan Arjuna yang membuat kedua orang pria itu langsung keluar dari rumah Arjuna secara bersamaan.
“Kenapa tuh si Sueb?” Pak Dayat berjalan ke arah Lili yang sedang tertawa terbahak-bahak di halaman rumahnya.
Arjuna yang merasa penasaran, mengikuti pak Dayat dari belakang, mereka berdua berjalan menghampiri Lili.
“Lo apain si Sueb sampe ketakutan gitu?” tanya pak Dayat lagi sambil menatap heran ke arah putrinya yang tertawa sampai terpingkal.
“Sueb siapa sih, Pak?” Lili menatap heran ke arah ayahnya.
“Itu, pacar lo,” jawab pak Dayat sambil menunjuk ke arah Nico yang sudah berlari sangat jauh, bahkan sudah tak terlihat lagi.
“Kok Sueb? Namanya Nico,” sangkal Lili yang semakin tertawa kencang.
“Halah, susah banget namanya, lebih gampang Sueb, gak belibet gue nyebutnya,” cerocos pak Dayat yang membuat Lili semakin tak dapat menghentikan tawanya.
Arjuna yang berdiri di belakang pak Dayat, hanya tertawa pelan, ia sudah tak asing lagi dengan tetangganya yang heboh itu.
Anak dan bapaknya memang sama saja bikin suasana jadi heboh.
Sejak dulu memang sudah seperti itu, apalagi ketika ibunya Lili masih hidup dan juga kedua orang tua Arjuna masih hidup, mereka sering berkumpul bersama dan mengadakan acara makan-makan yang membuat suasana semakin heboh.
Setelah itu, Lili kembali masuk ke dalam rumah, gadis itu langsung menuju kamarnya. Ia merasa lega karena akhirnya Nico pergi juga.
“Alhamdulillah, gue gak jadi diapa-apain sama si Nico, gila banget tuh anak,” oceh Lili sambil mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya.
Ia baru ingat kalau ia telah menyimpan sesuatu di sana.
“Mending gue sama Om Arjun aja. Sekalinya dinikahin juga gue gak rugi, secara dia kan udah mateng, udah punya usaha sendiri, punya rumah, punya mobil, punya sawah, punya tanah berhektar-hektar, punya kebun, gak rugi gue. Walaupun minusnya dia gak normal, tapi gak papa, gue masih bisa pake asbak Bali. Hahaha ….” Lili tertawa sendiri.
Ia memperhatikan foto Arjuna yang diambilnya dari kamar pria itu, Lili tidak tahu itu foto kapan, akan tetapi foto itu memiliki background biru yang mungkin saja itu adalah foto yang akan ditempel di buku nikah.
Namun, Lili juga tidak tahu Arjuna akan menikah dengan siapa, karena selama ini ia tidak pernah mendengar kabar apapun soal pernikahan pria itu atau bahkan soal perempuan yang dekat dengannya.
Entah karena Lili yang tidak mendengar kabar itu, atau karena Arjuna yang terlalu private.
“Tapi dilihat-lihat Om Arjun ganteng juga. Diam di sini baik-baik ya, Om.” Lili memasukkan foto berukuran kecil itu ke dalam dompetnya.
“Hmmmm … lebih baik sekarang gue mandi, biar gak pelor lagi. Udah mau magrib ini.” Lili melemparkan dompet itu ke arah kasur, setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Siang kini telah berganti malam, Lili menyalakan laptopnya, ia akan sedikit-demi sedikit mengerjakan tugas kampus, agar ketika waktunya dikumpulkan ia tidak keteteran sendiri.
“Li … Lili …” teriak pak Dayat dari depan pintu kamar yang membuat Lili langsung membuang nafas kasar ketika mendengar teriakan bapaknya.
“Iya, Pak, kenapa?” balas Lili tanpa beranjak dari atas ranjang.
“Pergi beli nasi goreng, Li. Bapak laper, tapi malas masak,” titah pak Dayat.
“Huh, ada aja gangguannya,” protes Lili sendiri dengan wajah kesal.
Akan tetapi ia segera turun dari kasur, Lili akan melaksanakan perintah ayahnya, karena jika bukan ia yang membeli makanan, maka ayahnya akan memerintah siapa lagi.
Lili segera keluar dari kamar, ia menghampiri pak Dayat yang sudah menunggunya di depan kamar.
“Duitnya mana, Pak?” Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah pak Dayat.
“Pake duit kamu aja dulu, duitnya Bapak belum dicairkan,” balas pria paruh baya itu dengan wajah serius.
“Emangnya masih di mana duitnya, Pak?” tanya Lili yang juga ikut memasang wajah serius.
“Di dalam freezer,” jawab pak Dayat yang diiringi kekehan pelan.
“kаmprt!” protes Lili yang membuat bapaknya seketika memecahkan tawa.
“Ya udah buruan sana, Bapak lapeer, tar besok Bapak ganti duitnya,” titah pak Dayat lagi yang sepertinya memang benar-benar lapar.
“Siap kompeni!” Lili mengambil dompet di dalam kamar, setelah itu ia berjalan dengan cepat keluar dari rumahnya.
“Eh, Li gak bawa motor?” teriak pak Dayat karena ia melihat kunci motor Lili masih tergeletak di atas meja.
“Kagak, Pak, mau terbang aja,” jawab Lili berteriak karena saat ini ia sudah berada di teras rumah.